Kalimantan sebagai pulau nomor tiga terbesar di dunia, dan diselimuti hutan alami sudah lama dikenal sebagai “Paru-Paru Dunia” yang sangat berkontribusi dalam membantu meredam pemanasan global. Tetapi apakah status itu akan bertahan? Menjamurnya industri-industri baik legal dan illegal serta maraknya masyarakat berpikiran pendek kemudian membersihkan lahan dengan cara membakar, membuat Kalimantan dari salah satu penghasil oksigen terbesar di dunia, menjadi salah satu penyumbang Karbon Dioksida terbesar di dunia.

Menurut analisis citra satelit, dari 55 juta hektar di Pulau Kalimantan, terdapat 32 juta hektar hutan alami di tahun 2000 atau sebanyak 58% dari total area pulau Kalimantan. Kemudian hutan di Pulau Kalimantan di tahun 2009 berkurang sebanyak 2,7 juta hektar, dan kemudian berkurang lagi sebanyak 2,2 juta hektar di 2016. Pada tahun 2016, Pulau Kalimantan hanya memiliki 49% hutan alami dari total areanya atau sebanyak 27 juta hektar.

Tingkat deforestasi (penggundulan hutan) pun meningkat dari tahun ke tahun nya. Dari yang awalnya 300.000 hektar pertahun (0,9%) antara tahun 2000 hingga 2009, menjadi 320.000 hektar pertahun antara tahun 2009 dan 2016. Walaupun hingga sejauh ini tingkat deforestasi Kalimantan hanya setengah dari tingkat deforestasi di Sumatera, bila tidak dilakukan pencegahan, hutan alami kita akan semakin terancam.

Seiring berkurangnya lahan yang cocok untuk industri perkayuan dan penanaman kelapa sawit berkurang, para perusahaan-perusahaan mulai berekspansi ke daerah-daerah yang tadinya adalah hutan alami. Selain itu, pembangunan infrastruktur seperti  pembangunan jalan yang membelah hutan, meskipun sangat dibutuhkan untuk merangsang ekonomi daerah, juga mempunyai bahaya tersendiri untuk hutan alami kita. Hutan yang tadinya tak terganggu karena begitu sulit dijangkau, mulai dilirik dan dikonversi menjadi lahan industri. Penambangan, terutama penambangan batu bara juga sangat mengancam kelestarian hutan kita.

Banyaknya masalah yang mengancam kelestarian hutan kita memang butuh waktu dan dana yang besar untuk diselesaikan sekaligus. Tetapi jika kita sebagai masyarakat tidak memulai peran kita dari sekarang, lantas kapan Kurangnya inisiatif pemerintah Republik Indonesia dalam mencegah dan mengatasi memburuknya masalah perubahan iklim memang terkadang membuat kita putus asa. Tetapi sebagian masalahnya juga dimulai dari kita sendiri.

Hindari membakar hutan untuk membuka lahan, laporkan penebangan hutan dan pembebasan lahan illegal yang dilakukan perusahaan-perusahaan pertambangan dan kelapa sawit. Mulailah dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan di sekitar kita, agar anak-anak kita bisa bangga menjadi warga Kalimantan, pulau hijau dan pusat paru-paru dunia. Hutan ini adalah milik kita bersama, dan harus kita jaga bersama.

Dari sisi pemerintah, ayo kita berpartisipasi dalam pengembalian hutan rusak, bagaimanapun pemerintah kita memainkan peran penting dalam restorasi, dan regulasi untuk mencegah deforestasi kedepannya. Mari rakyat dan pemerintah kita sama-sama menjaga asrinya hutan Borneo.

Maju dan Tumbuh bersama UMKM Kalbar!

Baca Juga : Madu Hutan dan Pelestariannya
Baca Juga : 7 Destinasi Wajib Pecinta Alam di Kalimantan Barat
Mentega Tengkawang, Bahan Kosmetik Super asli Kalimantan Penantang Shea Butter

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *