Hidup Sehat Ala Hidroponik ala Ibu Imelda

Kehidupan manusia dari zaman ke zaman selalu berubah dan mengikuti perkembangan zaman, semua tidak terlepas dari pengaruh lingkungan dan pengaruh luar, begitu juga dengan gaya hidup masyarakat dalam bidang kesehatan. Manusia sekarang menjadi lebih peduli akan kesehatan dan menjadikan manusia semakin selektif dalam memilih makanan dan nutrisi yang akan diterima oleh tubuh. Kembali ke alam itulah motto yang mulai digunakan kembali, untuk hidup sehat. Hidroponik menjadi salah satu solusi untuk kembali ke alam, hidroponik disini adalah sebuah teknik budidaya yang memanfaatkan penggunaan air untuk menanam tanpa menggunakan tanah dan menekankan pada penggunaan nutrisi bagi tanaman.

Budidaya hidroponik di Pontianak berkembang dengan pesat, banyak yang menggunakan lahan yang sempit di pekarangan, halaman, dan atap genteng. Berbagai macam tanaman dikembangbiakkan dengan sistem hidroponik. Hidroponik berasal dari kata Yunani yaitu hydro artinya air dan ponos yang artinya daya, hidroponik sendiri juga dikenal sebagai budidaya tanaman tanpa tanah yang disebut soiless culture.

Metode penanaman secara hidroponik dipercaya jauh lebih produktif daripada penanaman tradisional yang bermediakan tanah. Tanaman tumbuh jauh lebih cepat dan juga tahan dari berbagai macam penyakit dan hama yang menggunakan tanah sebagai media penyebarannya. Selain itu hemat dan praktisnya menyediakan lahan untuk mulai menanam juga menjadi salah satu faktor yang membuat hidroponik menarik untuk dijalankan. Biayanya pun bervariasi, bisa menggunakan bahan-bahan bekas untuk metode Kratky, hingga bagi yang lebih serius menekuninya, butuh investasi yang lumayan untuk memulai beberapa metode yang terbilang naik kelas, seperti Nutrient Film Technique (NFT) dan Deep Water Culture (DWC).

Hidup sehat ala hidroponik juga dikembangkan oleh seorang ibu yang juga menyalurkan hobi mengurus tanaman. Dari sebuah hobi yang ditekuni selama 3 tahun ini berubah menjadi sebuah bisnis. Ibu Imelda Kuen yang lahir di tahun 1959 di Jemengko, kecamatan Kembayan, Kalimantan Barat bersama dengan suaminya bapak Yosef Rudin kelahiran tahun 1956, pertama kali mengembangkan hidroponik secara kecil – kecilan untuk mengisi waktu luang sekarang berkembang dan menghadirkan nuansa alam di rumah nya jalan Husein Hamzah pal 5, Komplek Manday Lestari Permai A15.

Ibu Imelda tergolong sukses menekuni penanaman hidroponik. Kebun hidroponiknya lebih dari cukup untuk konsumsi pribadi dan keluarga, dan sebagian juga bisa dijual untuk menambah pemasukan. Hasil produksi yang bermutu tinggi pun kemudian sangat laris di pasaran. Semua ini berkat kecintaannya dan ketekunannya menjalankan hidroponik di rumah.

Ibu Imelda dan Tanaman Hidroponiknya

Karena nyamannya, pekarangan rumahnya dijadikan juga tempat untuk ngobrol bareng sambil menikmati hijaunya tanaman yang tertata dengan rapi dan bersih. Ada macam – macam tanaman yang ditanam secara hidroponik dan menggunakan media tanah antara lain tanaman mint, sayur kale, cabe, anggur, murbei, ara, jambu, jeruk, anggrek, lidah mertua. Ibu Imelda juga mengembangkan budidaya jamur tiram dengan menggunakan badlog sebagai media. Setiap pagi aktivitas dimulai dengan mengurus kebun kecil sampai kadang lupa waktu.

Kebun Hidroponik Ibu Imelda

Ibu Imelda juga menjual dan membibitkan tanaman. Bila ada pelanggan memerlukan bibit bisa menghubungi Ibu Imelda di nomor handpone 0853-8791-9675. Tidak terasa juga pembicaraan kami mengalir selama 3 jam, waktu yang kurang buat ngobrol panjang karena historinya bu Imelda yang luar biasa dan bisa kita jadikan pelajaran untuk hidup. Pensiunan Dinas Kesehatan Kalbar ini mempunyai 3 orang anak yang kini sedang menekuni pekerjaannya masing – masing.

Ketika kami berkunjung, terlihat raut muka yang sangat keibuan, humble dalam menerima tamu dan tidak ragu untuk berbagi pengalaman beliau. Hidup sehat ala hidroponik yang mereka terapkan menjadi pola hidup yang selalu beliau ceritakan dengan tamu – tamu yang datang. Topik yang beliau coba tanamkan adalah kembali ke alam dan jangan pernah merusak alam karena alam Kalimantan Barat luar biasa dan menyediakan berbagai macam tanaman yang bisa di fungsikan sebagai makanan dan tanaman obat.

Mari kita semua biasakan menanam makanan kita sendiri! Kurangi jejak kaki karbon kita semua, dimulai dari diri sendiri! Akhir kata dari beliau jangan pernah menyerah dan terus berjuang untuk maju, raih masa depan. Majukan Kalimantan barat, jangan pernah lupa kita lahir dimana dan darah kita tetap Indonesia.

Bajakah, Tanaman Obat Kanker Yang Mencuri Perhatian

Bajakah tiba – tiba menjadi tanaman terkenal, sebelumnya bajakah hanya tanaman biasa yang terdapat di hutan Kalimantan. Apa yang menjadikan tanaman ini sekarang banyak diburu dan ditebang?

Bajakah diyakini bisa menyembuhkan Kanker dan mempunyai antioksidan yang tinggi. Bermula dari penelitian Yazid Rafli Akbar, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani siswi SMKN 2 Palangkaraya di laboratorium sekolah kemudian dilanjutkan tahap berikutnya menggunakan tikus sebagai bahan uji coba yang disuntik dengan sel tumor atau kanker dan tikus tersebut dinyatakan sehat.

Dengan modal penelitian awal dan didorong oleh guru Biologi Ibu Helita yang mengajar di sekolah, mereka pun melanjutkan penelitian tersebut. Dari hasil penelitian selanjutnya, ditemukan bahwa kayu Bajakah memiliki kandungan antioksidan dalam jumlah yang sangat tinggi.

Credit: Google Image Search

Hasil Penelitian selanjutnya diolah menjadi serbuk dan dibawa mengikuti lomba Youth Nation Science Fair 2019 pada skala dalam negeri dan mendapatkan medali emas. Dari sana terbuka pintu menuju ajang yang lebih tinggi lagi di tingkat Inernational di Seoul dan akhirnya penelitian kayu Bajakah dinobatkan sebagai juara dunia. Jalan untuk Bajakah menjadi tanaman yang bisa menyembuhkan penyakit kanker masih panjang, masih dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut karena masih ada tahapan yang harus dilalui. Menurut Koordinator Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Danang Ardiyanto, ada 2  uji tahap yang harus dilakukan, yaitu uji pra klinik dan uji klinik.

A. Uji Pra Klinik

Uji pra klinik dimulai dengan riset menggunakan hewan  dan mempunyai 5 tahapan, yaitu:

Uji Eksperimental in Vitro

Uji Eksperimental in Vitro bertujuan untuk membuktikan klaim sebuah obat. Ekstrak diberikan pada sebagian organ yang terisolasi, kultur sel atau mikroba. Pengamatan dilakukan pada efek yang ditimbulkan. namun sayangnya, eksperimen in vitro seringkali gagal dalam meniru kondisi selular dengan akurat, terutama pada mikroba. Penelitian ini menyebabkan ketidaksesuaian kesimpulan dengan keadaan yang diambil dalam organisme hidup

Uji Eksperimental in Vivo

Pngujian in vivo diterapkan pada hewan percobaan secara langsung untuk membuktikan klaim obat, uji coba dilakukan pada hewan seperti tiku, anjing, kucing, kelinci ataupun mencit. Tapi pendekatan ini tak luput dari sesat kesimpulan, misalnya, tetapi hanya menawarkan manfaat jangka pendek dan bahaya dalam jangka panjang.

Uji Toksisitas Akut

Uji toksisitas akut tergolong dalam uji pra klinik yang berfungsi untuk mengukur pengaruh efek toksik suatu senyawa dalam jangka waktu tertentu setelah diberikan dosis tunggal untuk mengetahui LD (lethal Dose) 50 dalam sebuah obat. Semakin tinggi LD 50, maka obat semakin aman.

Uji Toksisitas Subkronik

Uji Toksisitas Subkronik adalah uji pra klinik untuk mengidentifikasi ciri fisik maupun organ yang diberikan senyawa uji secara berulang dalam waktu tertentu yaitu selama 28 atau 90 hari (Casarett dan Doull, 2008). Setiap hari dalam 3 bulan, hewan diberi ekstrak. Tujuannya untuk mengamati kelainan akibat konsumsi obat yang diamati. Efek akumulasi obat menjadi fokus dalam tahap ini.

Uji Toksisitas Khusus

Tujuannya untuk melihat keamanan obat dalam jangka panjang.

B. Uji Klinik Pada Manusia

Ada 4 tahapan yang harus dilalui untuk melakukan pengujian ini, antara lain:

Uji Klinik Fase 1

Untuk mengetahui efek dan farmakokinetik (proses obat sejak diminum hingga ke luar dari tubuh). Uji ini dilakukan pada relawan yang sehat untuk mengetahui keamanannya.

Uji Klinik Fase 2

Selanjutnya obat diberikan bagi orang sakit untuk membuktikan khasiatnya.

Uji Klinik Fase 3

Jumlah sukarelawan diperbanyak dan lokasi diperluas. Apabila hasil uji klinik obat teruji aman, maka uji klinik dapat memasuki tahap selanjutnya untuk mendapatkan izin edar dan dapat mulai dipasarkan.

Uji Klinik Fase 4

Fase ini untuk memastikan obat yang beredar di masyarakat tidak ada bahayanya dan memiliki harga yang baik.

Sumber : Michelle Natasya – DetikHealth, Selasa, 13 Agustus 2019

Baca Juga : Kratom, Psikotropika Lokal yang Mendunia
Baca Juga : Madu Hutan dan Pelestariannya
Baca Juga : 13 Manfaat Mentega Tengkawang

Anggrek Tanaman Eksotis Kalimantan Barat

Anggrek si tanaman hias yang mempunyai bentuk yang eksotis dan menjadi tanaman yang diburu oleh kolektor-kolektor penghobi tanaman anggrek. Anggrek adalah tanaman yang menjadi primadona di seluruh dunia. Indonesia yang memiliki alam yang masih indah dan hutan-hutan yang masih terpelihara memiliki 5000 – 6000 spesies dari total 26.000 spesies. Indonesia boleh berbangga karena masuk ke dalam negara ke-2 di dunia yang memiliki spesies anggrek terbanyak setelah negara Brazil.

Di daerah Kalimantan Barat sendiri hutan-hutan di pedalaman menyimpan keanekaragaman Anggrek. Di Indonesia Provinsi Kalimantan Barat masuk urutan ke-2 yang memiliki potensi Anggrek yang besar dibawah Papua.

Salah satu narasumber yang berhasil kami temui adalah Bapak Ulung Sunandar yang bekerja di UPTD Agribisnis Pemerintah Kota Pontianak yang membaktikan dirinya untuk mengurus tempat pembibitan dan pengembangan anggrek di Aloe Vera Center Jl. Budi Utomo sejak tahun 2005 sampai sekarang, ada 100 jenis tanaman anggrek yang dimiliki oleh UPDT Agribisnis Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak dan berhasil dikembang-biakkan dengan sistem Kultur Jaringan.

Beberapa jenis tanaman anggrek yang bisa ditemui di Kalimantan Barat, antara lain:

1. Anggrek Ekor Tikus  (Paraphalaenopsis Sepentilingu)

Credit: Google Image Search

Anggrek Ekor Tikus masuk dalam salah satu genus Paraphalaenopsis. Genus ini mempunyai 4 jenis species yaitu Paraphalaenopsis denevei, labukensis, serpentilingua dan laycockii. Tanaman Anggrek jenis ini dapat hidup di hutan rawa yang memiliki tempat yang teduh dengan ketinggian di bawah 1000 meter dan cahaya matahari yang hanya 50 persen.  Anggrek ekor  tikus merupakan tanaman yang hampir punah dan termasuk tanaman khas Kalimantan Barat

2.  Anggrek Hitam (Coelogyne Pandurata)

Credit: Google Image Search

Tanaman Anggrek yang memiliki warna bunga hijau dan panjang sekitar 15-20 cm. Anggrek hitam mempunyai lidah (labellum) yang berwarna hitam dengan garis-garis berwarna hijau dan berbulu. Bunga anggrek hitam memiliki aroma wangi semerbak Bunga ini mekar pada bulan Maret sampai bulan Juni. Semakin berumur, warna bunga akan menjadi berwana hitam.

3. Anggrek Tebu (Grammatophyllum speciosum)

Credit: Google Image Search

Tanaman Anggrek Tebu yang memiliki berat yang bisa mencapai 1 ton dan ukuran  yang besar, bunganya bisa mencapai 100 kuntum dengan diameter 10 cm dan batangnya yang mirip dengan tanaman tebu, sehingga dinamakan Anggrek Tebu. Bunga anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum) berwarna kuning dengan bintik-bintik berwarna coklat, merah atau merah kehitam-hitaman. Bunga anggrek tebu tahan lama dan tidak mudah layu. Meskipun telah dipotong dari batangnya bunga raksasa yang super besar dan berat ini mampu bertahan 2 bulan.

4. Anggrek Bulan (Phalaenopsis Amabilis)

Anggrek jenis ini hidup menempel pada batang atau cabang pohon di hutan dan tumbuh hingga 600 meter di atas permukaan laut. Anggrek bulan termasuk dalam tanaman anggrek monopodial yang menyukai sedikit cahaya matahari sebagai penunjang hidupnya. Daunnya berwarna hijau dengan bentuk memanjang. Akar-akarnya berwarna putih dan berbentuk bulat memanjang serta terasa berdaging. Bunganya memiliki sedikit keharuman dan waktu mekar yang lama serta dapat tumbuh hingga diameter 10 cm lebih.

Di akhir obrolan terselip pesan dari Bapak Ulung untuk turut serta menjaga tanaman anggrek khas Kalimantan Barat agar tidak punah. Bagi yang ingin tahu lebih banyak tentang tanaman anggrek bisa datang ke Aloe Vera Center UPTD Agribisnis Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, Jl. Budi Utomo No. 29, Siantan Hulu, Pontianak.

Sumber : Bp Ulung Sunandar. Wikipedia, J.J. SM AD Hawks

Baca Juga : Festival Durian Bumi Khatulistiwa 2019, Festival Durian Pertama Tingkat Provinsi Kalimantan Barat
Baca Juga : STQ Ke-25 Membawa Berkah Bagi UMKM di Pontianak
Baca Juga : Jenis-Jenis Kopi di Kalbar