Hati-Hati, Gigitan Nyamuk Dapat Sebabkan Sindrom Skeeter

Semua orang pasti pernah merasakan digigit nyamuk. Umumnya, efek gigitan nyamuk menimbulkan iritasi ringan disertai timbulnya bintik merah dan rasa gatal pada kulit. Berbicara tentang gigitan nyamuk, ternyata gigitan nyamuk dapat menimbulkan reaksi yang lebih parah dari sekedar iritasi.

Reaksi tersebut dikenal dengan nama sindrom Skeeter atau alergi terhadap air liur nyamuk. Berdasarkan penjelasan American Academy of Allergy & Immunology, sindrom Skeeter adalah reaksi peradangan akibat gigitan nyamuk. Beberapa gejalanya antara lain pembengkakan luas, panas, kemerahan, dan gatal-gatal atau nyeri di kulit yang mirip dengan proses infeksi. Kasus yang lebih parah dari akibat sindrom Skeeter adalah penderita mengalami kesulitan bernapas, sesak tenggorokan, gatal-gatal, dan anafilaksis.

Nyamuk mengeluarkan sejumlah protein yang menyebabkan penggumpalan darah, sehingga bisa menyedot darah targetnya. Nyamuk harus melakukan kontak dengan kulit minimal selama enam detik supaya bisa memunculkan reaksi sindrom Skeeter. Selanjutnya, korban sindrom Skeeter akan mendapati benjolan lunak yang lama kelamaan berubah warna menjadi merah muda. Benjolan tersebut akan berubah warna lagi menjadi sangat merah dan teksturnya mengeras. Gejala yang ditimbulkan ini akan bertahan selama 48 jam setelah digigit nyamuk. Rasa gatal akan hilang beberapa hari kemudian. Benjolan merah tua berubah menjadi merah muda dan berangsur kembali ke warna kulit semula. Untuk kondisi pembengkakan, kondisi ini butuh waktu kurang lebih satu minggu agar benar-benar mengempis.

Gejala-gejala sindrom Skeeter bisa terjadi di bagian tubuh mana saja, seperti mata, wajah, dan seluruh tubuh bisa mengalami bengkak serta berwarna kemerahan. Hingga saat ini belum diketahui ada berapa banyak orang yang mengalami sindrom Skeeter, karena kebanyakan tidak mengetahui tentang sindrom ini, alhasil tidak mencari pengobatan. Jelasnya, alergi nyamuk tidak separah alergi tawon dan lalat yang penderitanya harus siaga membawa EpiPen atau obat pereda alergi.

Seperti yang telah dijelaskan, nyamuk membutuhkan waktu enam detik atau lebih untuk mentransfer enzimnya ke dalam tubuh korbannya. Terkadang, proses pengembangan enzim dari nyamuk memerlukan waktu hingga 48 jam agar berkembang sepenuhnya. Estimasi waktu ini terjadi pada anak yang memiliki alergi terhadap air liur nyamuk. Anak yang alergi terhadap air liur nyamuk akan bereaksi terhadap enzim tertentu yang dimiliki nyamuk, sehingga menimbulkan alergi. Reaksi alerginya juga tidak langsung.

Lantas, bagaimana cara mencegah dan mengatasi sindrom Skeeter? Para ahli medis menyarankan apabila reaksi gigitan nyamuk sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan sangat parah, terutama pada anak-anak, maka cara terbaik mencegahnya adalah menggunakan losion anti nyamuk. Membawa semprotan anti nyamuk dan mengenakan pakaian yang menutupi kulit tubuh adalah cara jitu menangkal sindrom Skeeter. Jika gatal dan bengkak terlanjur muncul, disarankan untuk mengoleskan obat yang dapat meredakan alergi, seperti cairan antihistamin dan krim hydrocortisone.