Napak Tilas Tempat Bersejarah: Saksi Bisu Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Tahun ini, Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun ke-76. Rakyat Indonesia bersukacita memaknai perjuangan dan mengenang semua jasa-jasa yang telah dilakukan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Salah satu cara mengenang perjuangan para pahlawan adalah melakukan perjalanan wisata ke tempat-tempat bersejarah. Kendati saat ini sedang musim pandemi, mengenang perjuangan para pahlawan masih bisa dilakukan dengan cara mempelajari situs-situs bernilai historikal tersebut. Berikut beberapa tempat bersejarah di Indonesia.

Rumah Rengasdengklok

Nama Rengasdengklok tentu saja sudah tidak asing lagi. Buku sejarah, buku pelajaran sekolah, hingga cerita dari mulut ke mulut sering menyebut Rengasdengklok. Tepatnya, 76 tahun silam, tempat ini menjadi saksi bisu “penculikan” dua tokoh pergerakan Indonesia, Soekarno dan Hatta. Soekarno dan Hatta dibawa sekelompok pemuda ke Rengasdengklok. Para pemuda ini mendesak Soekarno dan Hatta agar segara memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa perlu menunggu perkembangan dari Jepang.

Letak rumah Rengasdengklok tidak jauh dari Monumen Kebulatan Tekad. Menurut penuturan pemilik rumah ini, Soekarno tiba pada tanggal 15 Agustus 1945. Rumah ini dipilih untuk tempat persinggahan Soekarno dan Hatta karena kondisi rumah yang tidak mencolok. Rencana awalnya, Soekarno dan Hatta berkumpul di markas PETA, tetapi karena dirasa terlalu mencolok akhirnya rumah dipindah ke rumah Rengadengklok  yang penuh tanaman rimbun.

Dulunya, posisi rumah Rengasdengklok berada di sisi tanggul Sungai Citarum dan dianggap tersembunyi, sehingga cocok dijadikan tempat persembunyian. Kini, posisi rumah Rengasdengklok telah bergeser sekitar 20 meter akibat rendaman waduk. Rumah ini sekarang dihiasi berbagai gambar tokoh yang terlibat peristiwa Rengasdengklok seperti Soekarno, Hatta, Wikana, Chaerul Saleh dan Achmad Soebarjo. Terpampang pula kalimat-kalimat perjuangan di sekitar gambar itu. Sejumlah perabotan yang dulunya pernah digunakan Soekarno dan Hatta seperti tempat tidur, meja, dan kursi masih tersimpan.

Monumen Kebulatan Tekad

Monumen Kebulatan Tekad dibangun di atas tanah seluas 1500 m2. Monumen ini merupakan bekas lokasi markas PETA di Kampung Bojong Tugu, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok. Lahan monumen berbentuk segitiga dan sudut di bagian timur merupakan jalan masuk ke areal monumen. Kondisinya berupa taman dengan bangunan tugu. Bagian depan sisi selatan terdapat tatanan batu yang membentuk angka 17, ditengah merupakan jalan setapak melingkar membentuk angka 8, dan di bagian utara terdapat tatanan batu membentuk angka 45. Tepat di tengah halaman terdapat Tugu Kebulatan Tekad yang berdiri di atas batur persegi. Tiap-tiap sudut batur terdapat tugu yang di atasnya terdapat bentuk bambu runcing.

Tengah-tengah bagian sisi terdapat semacam tugu, tetapi tidak dilengkapi bentuk bambu runcing. Disebut Monumen Kebulatan Tekad lantaran terdapat figur tangan yang mengepal. Tangan mengepal ini dimaknai sebagai tekad yang kuat dari pembela tanah air untuk mengusir penjajah dan perjuangan demi menyatakan kemerdekaan Indonesia. Di belakang tugu terdapat dinding yang menggambarkan kisah perjalanan proklamasi. Ada juga terdapat relief yang menggambarkan saat Soekarno dan Hatta dibawa ke rengasdengklok. Menurut informasi, Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok dibangun pada tahun 1950 dengan biaya Rp.17.500,00. Uang itu merupakan hasil dari sumbangan pemerintah dan hasil dari sumbangan masyarakat.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Museum Perumusan Naskah Proklamasi terletak di Jalan Imam Bonjol I, Menteng, Jakarta. Saat masa pendudukan Jepang, jalan ini bernama Jalan Meiji Dori. Sebelum ditetapkan menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, bangunan ini menjadi rumah tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda. Tadashi Maeda adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda pada masa Perang Pasifik.

Laksamana Muda Tadashi Maeda menjadi salah satu tokoh penting dalam kemerdekaan Indonesia. Maeda mengizinkan rumahnya untuk dijadikan tempat perumusan naskah proklamasi Indonesia.

Ada empat ruangan di dalam Museum Proklamasi yaitu:

Ruang Pertama menjadi tempat peristiwa bersejarah pertama dalam persiapan Perumusan Naskah Proklamasi Indonesia. Ruangan ini dijadikan  ruang tamu, sekaligus kantor. Selain itu, di dalam ruangan ini juga diperlihatkan suasana menjelang proklamasi, seperti proses pembentukan PPKI dan BPUPKI, peristiwa bom Hiroshima-Nagasaki, dan lainnya.

Ruang Kedua menjadi tempat Soekarno dan Hatta mengadakan rapat bersama di meja bundar dengan pengurus lain seperti B.M. Diah. Naskah proklamasi yang asli ditulis tangan oleh Soekarno dengan judul “Proklamasi” di ruangan kedua ini. Ruangan kedua ini juga diperlihatkan sewaktu Soekarno mengumandangkan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur.

Ruang ketiga, terdapat sebuah piano yang menjadi tempat Soekarno dan Hatta menandatangani naskah proklamasi Indonesia. Peristiwa bersejarah ruang ketiga adalah Soekarno membacakan naskah proklamasi di depan rumahnya. Gambaran suasana pergolakan saat mempertahankan kemerdekaan juga ditampilkan di ruangan ini.

Ruang Keempat yang merupakan ruangan terakhir adalah tempat pameran benda-benda yang pernah dikenakan oleh para tokoh yang hadir saat perumusan naskah proklamasi. Benda-benda tersebut seperti jam tangan, pulpen, dab pakaian. Sayuti Melik dan B.M. Diah mengetikkan naskah proklamasi Indonesia di ruangan keempat ini.

Radio Republik Indonesia (RRI)

Sebagian masyarakat Indonesia mungkin belum mengetahui bahwa 11 September diperingati sebagai Hari Radio Nasional atau disebut juga sebagai Hari Radio Republik Indonesia (RRI). Dikatakan sebagai Hari Radio Nasional lantaran tanggal peringatannya diambil dari hari kelahiran RRI pada 11 September 1945. Berbicara mengenai kelahiran RRI, tentunya tidak bisa dilepaskan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang kala itu masih seumur jagung. RRI yang dikenal dengan slogan “sekali di udara, tetap di udara” itu beroperasi pertama kali menggunakan peralatan radio Jepang, Hoso Kyoku. Tujuan utamanya menyebarluaskan informasi kepada masyarakat bahwa Indonesia telah merdeka dan menjadi negara yang berdaulat penuh. Kala itu, Abdurahman Saleh dan tujuh orang rekannya, yakni Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto dan Maladi menjadi tokoh penting yang mempelopori lahirnya RRI.

RRI hadir sebagai salah satu antisipasi apabila saat itu sekutu mendarat di tanah air. Nyatanya, RRI berperan lebih dari itu. Radio ini juga turut serta andil saat terjadi Agresi Militer Belanda II pada tahun 1949. Seluruh pemancar milik RRI hancur karena bombardir yang diluncurkan Belanda. Tentunya, penyerangan ini mengakibatkan komunikasi antar wilayah di Indonesia dan antar negara terputus. Kondisi genting ini dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk menggunakan pemancar radio berdaya 350 KW yang dimiliki Belanda untuk menyebarkan ke seluruh dunia bahwa Indonesia sudah berhasil ditaklukan. Bukan berarti perlawanan menggunakan RRI terhenti begitu saja. Berbekal pemancar radio yang diam-diam berhasil diselundupkan dari Singapura, lahirlah Radio Rimba Raya. Sesuai namanya, radio tersebut berada di tengah hutan belantara untuk menghindari serangan kembali militer Belanda. Pemancar Radio Rimba Raya di Bener Meriah, Aceh dengan siaran shortwave atau gelombang pendeknya yang tidak berhenti menyuarakan bahwa Indonesia masih ada ketika Agresi Militer Belanda II.

Museum Kebangkitan Nasional

 Museum Kebangkitan Nasional masih menjadi pusat perhatian para ahli sejarah karena terdapat berbagai macam kasha (uang timah) hingga benda peninggalan yang menarik untuk diulas. Dilansir dari laman resmi Museum Jakarta dan Kementerian Pendidikan dan Kebubayaan, nama awal dari museum ini adalah STOVIA yang merupakan singkatan dari School tot Opleding van Inlandsche Arsten yaitu Sekolah Kedokteran Bumiputra.yang diresmikan pada 1 Maret 1902. Desainnya sangat kental dengan arsitektur Belanda. Bangunan ini dilapisi tembok-tembok tebal yang kokoh, yang masih bertahan utuh hingga kini. Awalnya, gedung ini adalah lembaga pendidikan bagi para pelajar dari berbagai wilayah di Indonesia. Beberapa tokoh nasional pernah menempuh pendidikan di Stovia, seperti Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangoenkoesoemo dan, R. Sutomo.

Pemanfaatan Gedung STOVIA berubah total ketika Jepang datang, sekitar tahun 1942. Kurang lebih 12 tahun, gedung pertama difungsikan sebagai kamar tahanan pasukan Belanda yang melawan Jepang. Tahun 1945 hingga 1973, gedung tua tersebut digunakan sebagai hunian keluarga tentara Belanda dan beberapa keluarga asal Ambon. Ada beberapa alasan mengapa gedung ini menjadi gedung penting bagi sejarah bangsa Indonesia. 

Pertama, gedung ini adalah saksi bisu lahirnya organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan seperti Boedi Oetomo, Trikoro Dharmo atau Jong Java, Jong Minahasa, dan Jong Ambon. Kedua, gedung merupakan sekolah elit yang sudah mencetak beberapa tokoh kebangsaan yang berjasa besar bagi Indonesia. Alasan-alasan ini yang membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pemugaran gedung Stovia tepat di tahun 1973. 

Tepat pada tanggal 20 Mei 1974, bertepatan dengan peringatan Kebangkitan Nasional, gedung ini diresmikan menjadi Gedung Kebangkitan Nasional oleh Presiden Soeharto. Gedung yang terbagi menjadi empat bagian itu difungsikan sebagai Museum Budi Utomo, Museum Wanita, Museum Pers, dan Museum Kesehatan. Pada 7 Februari 1984, gedung Stovia resmi menjadi Museum Kebangkitan Nasional. Gedung ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya, sehingga keutuhan gedung harus tetap dilestarikan tanpa adanya perombakan. 

Gedung Joang 45

Museum Joang 45 yang terletak di Jalan Raya Menteng Nomor 31, Jakarta Pusat. Ciri khas bangunan ini adalah warnanya dominan putih dan masih ada sisa-sisa kemewahan menyembul dari marmer yang mengalasi lantainya, serta barisan pilar besar di serambi yang menopang atap tingginya. Gedung ini terpaut hanya 1-2 kilometer dari Stasiun Gondangdia. Gedung ini pada mulanya milik pasangan suami istri Belanda, LC Schomper dan AM Bruyn. Bangunan yang sengaja dibangun sebagai hotel mewah ini, memang dimaksudkan sebagai tempat singgah para pejabat, baik pejabat Belanda, maupun pejabat pribumi.

Nahas, kejayaan hotel Schomper tidak berlangsung lama. Hotel Schomper dengan cepat berhasil dirampas oleh Jepang yang datang ke Batavia tahun 1942. Kedatangan Jepang ke Batavia diiringi dengan penyerahan tanpa syarat oleh Belanda, hingga membuat aset-aset di Batavia turut disita. Lalu apa yang membuat bangunan ini berperan dalam kemerdekaan Indonesia?

Anak Marhaen (AM) Hanafi, adalah seorang pemuda yang terlibat dalam pergerakan revolusioner. Bersama rekan-rekannya, Hanafi berhasil mendapatkan izin dari Jepang untuk menjadikan eks Hotel Schomper sebagai asrama pemuda. Tentu saja, pihak Jepang tidak mengetahui tujuan sebenarnya dari pemanfaatkan gedung ini oleh Hanafi dan rekan-rekan seperjuangannya. Ternyata, tidak hanya menjadi asrama pemuda, gedung yang kemudian dinamai Gedung Menteng 31 ini dengan cepat berubah menjadi markas bagi pemikiran-pemikiran radikal kaum muda dalam membidik kemerdekaan Indonesia. Diceritakan, asrama ini dibentuk usai para pemuda sepakat bahwa gerakan yang dijalankan harus terorganisasi demi orientasi politik bersama. Di asrama ini, para pemuda menyusun aneka strategi demi merebut kemerdekaan dari tangan Jepang. Para pemuda jebolan Gedung Joang mendesak kemerdekaan sesegera mungkin. Gerakan jebolan Gedung Menteng 31 memuncak tatkala Jepang menyerah kepada Sekutu setelah kekalahan demi kekalahan pada 1945. Setelah kabar takluknya Nippon tersiar, para pemuda Menteng 31 langsung bergerak.

Masih Bisakah Anak Cucu Kita Melihat Hutan Kalimantan?

Kalimantan sebagai pulau nomor tiga terbesar di dunia, dan diselimuti hutan alami sudah lama dikenal sebagai “Paru-Paru Dunia” yang sangat berkontribusi dalam membantu meredam pemanasan global. Tetapi apakah status itu akan bertahan? Menjamurnya industri-industri baik legal dan illegal serta maraknya masyarakat berpikiran pendek kemudian membersihkan lahan dengan cara membakar, membuat Kalimantan dari salah satu penghasil oksigen terbesar di dunia, menjadi salah satu penyumbang Karbon Dioksida terbesar di dunia.

Menurut analisis citra satelit, dari 55 juta hektar di Pulau Kalimantan, terdapat 32 juta hektar hutan alami di tahun 2000 atau sebanyak 58% dari total area pulau Kalimantan. Kemudian hutan di Pulau Kalimantan di tahun 2009 berkurang sebanyak 2,7 juta hektar, dan kemudian berkurang lagi sebanyak 2,2 juta hektar di 2016. Pada tahun 2016, Pulau Kalimantan hanya memiliki 49% hutan alami dari total areanya atau sebanyak 27 juta hektar.

Tingkat deforestasi (penggundulan hutan) pun meningkat dari tahun ke tahun nya. Dari yang awalnya 300.000 hektar pertahun (0,9%) antara tahun 2000 hingga 2009, menjadi 320.000 hektar pertahun antara tahun 2009 dan 2016. Walaupun hingga sejauh ini tingkat deforestasi Kalimantan hanya setengah dari tingkat deforestasi di Sumatera, bila tidak dilakukan pencegahan, hutan alami kita akan semakin terancam.

Seiring berkurangnya lahan yang cocok untuk industri perkayuan dan penanaman kelapa sawit berkurang, para perusahaan-perusahaan mulai berekspansi ke daerah-daerah yang tadinya adalah hutan alami. Selain itu, pembangunan infrastruktur seperti  pembangunan jalan yang membelah hutan, meskipun sangat dibutuhkan untuk merangsang ekonomi daerah, juga mempunyai bahaya tersendiri untuk hutan alami kita. Hutan yang tadinya tak terganggu karena begitu sulit dijangkau, mulai dilirik dan dikonversi menjadi lahan industri. Penambangan, terutama penambangan batu bara juga sangat mengancam kelestarian hutan kita.

Banyaknya masalah yang mengancam kelestarian hutan kita memang butuh waktu dan dana yang besar untuk diselesaikan sekaligus. Tetapi jika kita sebagai masyarakat tidak memulai peran kita dari sekarang, lantas kapan Kurangnya inisiatif pemerintah Republik Indonesia dalam mencegah dan mengatasi memburuknya masalah perubahan iklim memang terkadang membuat kita putus asa. Tetapi sebagian masalahnya juga dimulai dari kita sendiri.

Hindari membakar hutan untuk membuka lahan, laporkan penebangan hutan dan pembebasan lahan illegal yang dilakukan perusahaan-perusahaan pertambangan dan kelapa sawit. Mulailah dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan di sekitar kita, agar anak-anak kita bisa bangga menjadi warga Kalimantan, pulau hijau dan pusat paru-paru dunia. Hutan ini adalah milik kita bersama, dan harus kita jaga bersama.

Dari sisi pemerintah, ayo kita berpartisipasi dalam pengembalian hutan rusak, bagaimanapun pemerintah kita memainkan peran penting dalam restorasi, dan regulasi untuk mencegah deforestasi kedepannya. Mari rakyat dan pemerintah kita sama-sama menjaga asrinya hutan Borneo.

Maju dan Tumbuh bersama UMKM Kalbar!

Baca Juga : Madu Hutan dan Pelestariannya
Baca Juga : 7 Destinasi Wajib Pecinta Alam di Kalimantan Barat
Mentega Tengkawang, Bahan Kosmetik Super asli Kalimantan Penantang Shea Butter

UMKM Wajib Sertifikasi Halal Oktober 2019

Badan penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementrian Agama mewajibkan seluruh produk pangan, termasuk produk pangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memiliki sertifikasi halal dimulai dari 17 Oktober 2019. Hal ini sendiri sebetulnya sudah diatur di dalam Undang-Undang no.34 Tahun 2014 mengenai Jaminan Produk Halal (JPH).

Kepala BPJBH Kementrian Agama Sukoso menyatakan bahwa produk yang telah memiliki sertifikasi Halal saat ini berkisar di angka 2%, hal ini juga dikarenakan karena sama ini sifat sertifikasi Halal bagi produk pangan masih sukarela. Dengan dikeluarkannya peraturan wajib Halal, maka per 17 Oktober 2019, seluruh produk harus memenuhi ketentuan sertifikasi dan memiliki sertifikasi resmi Halal.

Seperti dikabarkan CNN Indonesia sebelumnya, Presiden Joko Widodo ingin agar setelah diberlakukannya peraturan tersebut, pengusaha kecil tidak akan dipungut biaya dalam proses pengajuan sertifikasi itu. Tak hanya itu, Beliau juga ingin penerbitan sertifikat Halal bisa diberikan secara cepat dan lancar.

Sebagai pelaku usaha berskala apapun, penting bagi kita semua untuk tertib administrasi dan memenuhi semua izin yang diperlukan sesuai ketentuan.

Maju terus UMKM Kalimantan Barat dan Indonesia!

Baca Juga : Siapkah UMKM Kita dalam Menghadapi MEA?