KARHUTLA Terjadi Lagi, Kabut Asap Kembali Selimuti Indonesia

Tidak ada langit biru yang bisa dilihat oleh warga Indonesia, khususnya masyarakat Kalimantan Barat, Sumatera, Riau dan Kalimantan Tengah. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kerap terjadi membuat Indonesia kembali diselimuti kabut asap. Beberapa kota yang terkena dampak dari kebakaran lahan, yaitu Kota Pontianak, Sampit, Pekanbaru, dan Jambi. Kalimantan Barat sendiri sudah tidak asing dengan kabut asap yang pasti terjadi setiap tahunnya. Bahkan, negara Malaysia khususnya kota – kota yang berbatasan dengan Indonesia juga terkena dampak kebakaran hutan dan lahan dari Kalimantan Barat.

Kabut asap dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut atau disingkat ISPA. Pemerintah menghimbau untuk masyarakat khususnya anak – anak dan orang tua untuk tidak sering berkegiatan di luar rumah, karena mereka rentan terkena ISPA, apalagi bagi pengidap ASMA. Kabut asap sendiri membuat aktivitas masyarakat Kalimantan Barat terganggu, dari sekolah yang diliburkan, dan membuat warga harus menggunakan masker ketika beraktivitas diluar.

Baca Juga: Masih Bisakah Anak Cucu Kita Melihat Hutan Kalimantan

Saat ini, berdasarkan indeks standar pencemaran udara (ISPU) mencapai 240,53 dengan parameter pm10. Artinya, kualitas udara di Kota Pontianak sudah memasuki kategori sangat tidak sehat. Semakin tebalnya kabut asap membuat aktivitas transportasi juga terganggu, khususnya transportasi udara. Penerbangan banyak di delay dan dicancel karena buruknya jarak pandang yang tertutupi kabut asap.

Credit: Google Image Search

Negara bagian Malaysia, Selangor, akan membuat hujan buatan atau penyemaian awan yang dilakukan di beberapa wilayah di mana tingkat pencemaran berdasarkan indeks polusi udara (API) telah melewati level 200 atau sudah mencapai kategori tidak sehat. Bahkan Malaysia meliburkan 409 sekolah di Sarawak. Begitu pula di Indonesia, Pemerintah Kota Pontianak menambahkan libur untuk PAUD, TK, SD dan SMP selama 4 hari, dari tanggal 16 September 2019 – 19 September 2019 dan masuk kembali tanggal 20 September 2019. Tetapi, karena semakin parahnya kabut asap, pemerintah meliburkan sekolah hingga pengumuman selanjutnya.

Selain Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Riau juga diselimuti kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Kalimantan Tengah, tepatnya di kota Sampit kualitas udara mencapai 599,09 dengan parameter pm10, artinya kualitas udara di kota Sampit sudah memasuki kategori berbahaya. Sedangkan di Pekanbaru, kualitas udara mencapai 203,42 dengan parameter pm10.

Baca Juga: Kebakaran Hutan Amazon: Apa yang Terjadi dan Apa yang Bisa Kita Pelajari

Masyarakat berbondong – bondong meminta bantuan pada pemerintah untuk segera menangani kabut asap yang semakin pekat. Ada masyaratkat yang juga melaksanakan sholat di tengah tebalnya kabut asap berdo’a agar diturunkan hujan. Tetapi, tidak hanya manusia yang menjadi korban dari karhutla, hewan – hewan juga. Mereka ada yang ikut terbakar, serta kehilangan habitat mereka.

Saat ini, Bapak Presiden Indonesia, Jokowi sedang berada di Pekanbaru memantau langsung karhutla. Di dalam rapat yang diselenggarakan dan dihadiri oleh gubernur Riau, menteri, kepala daerah, Panglima TNI, dan Kapolri beserta jajaran di Riau, Jokowi menerangkan gubernur punya perangkat sampai ke bawah. Begitu juga dengan bupati dan wali kota, Pangdam, Danrem, Dandim, Danramil hingga Babinsa, “Kita memiliki semuanya, tapi perangkat ini tidak diaktifkan secara baik. Kalau infrastruktur ini diaktifkan baik, saya yakin yang namanya satu titik api pasti terpantau baik sebelum menjadi ratusan titik, sudah diingatkan berkali-kali, yang kita hadapi ini gambut, kalau terbakar gambut, satu juta liter air pun dijatuhkan sulit dipadamkan” tegas Jokowi. (sumber: Liputan6).

Credit: Google Image Search

Buat warga Indonesia, mari kita lestarikan hutan kita, bukan membakarnya demi kepentingan pribadi. Banyak manfaat dari melestarikan hutan, diantaranya membantu menciptakan iklim mikro (micro climate) bagi lahan pertanian, menjaga ketersediaan air dan kesuburan tanah sehingga membantu menciptakan proses produksi pertanian yang berkelanjutan.

Kebakaran Hutan Amazon: Apa yang Terjadi dan Apa yang Bisa Kita Pelajari

Apa yang terjadi di Hutan Amazon?

Ribuan titik api melanda Hutan Amazon, Brazil. Hutan Amazon adalah hutan hujan terbesar di dunia, dan paru-paru dunia penghasil oksigen berubah menjadi penghasil karbon terbesar di dunia. Peristiwa ini tidak jauh berbeda dengan kejadian kebakaran hutan di Indonesia. Apa yang bisa kita pelajari?

Apakah kebakaran ini terjadi setiap tahun?

Ya, tetapi tahun ini (2019) adalah kebakaran terbesar dengan titik api terbanyak. Beberapa daerah terdampak jauh lebih parah dari biasanya. Pada negara bagian Amazonas yang notabene memiliki kebakaran terparah, hari puncak kebakaran tahun ini mencapai 700% lebih tinggi dibanding rata-rata tanggal serupa dari catatan 15 tahun terakhir. Di berbagai negara bagian, jumlah abu dan partikel-partikel kecil lainnya telah mencapai level tertinggi sejak 2010.

Bila dibandingkan dengan catatan BMKG Indonesia, maka tahun dengan kebakaran hutan terparah di Indonesia adalah tahun 2015 dengan Provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan sebagai yang paling luas terdampak titik api, masing-masing provinsi mencatat 25% dan 16% hutan terbakar dari total seluruh Indonesia.

Jumlah total hektar hutan terbakar hingga artikel ini ditulis :


Amazon (Brazil, Bolivia) Januari-Agustus 2019 : 74.898 titik api , 906.000 hektar hutan terbakar
Indonesia : 4.258 titik api, 135.749 hektar hutan terbakar

*hutan-hutan baik di Indonesia dan di Amazon masih terus terbakar saat penulisan artikel ini.

Apakah peran pemerintah dalam naik-turunnya angka kebakaran hutan?

Seperti marak diberitakan media-media, Presiden Brazil saat ini Jair Bolsonaro telah banyak berkontribusi dalam memperparah keadaan dengan tindakan-tindakan yang memperlemah badan-badan lingkungan, menyerang LSM konservasi lingkungan, dan melonggarkan regulasi penambangan di Hutan Amazon. Tetapi kebakaran hutan dengan skala ini bukanlah salah satu orang. Para pelobi-pelobi perkebunan dan pertanian sangat kuat secara politik dan finansial di Brazil dan perlahan tapi pasti, perusahaan-perusahaan tersebut menggerus sistem perlindungan hutan yang begitu sukses di Brazil pada tahun 2005-2014.

Deforestasi di Brazil sendiri mulai merangkak naik pada 5 tahun terakhir sejak pemerintahan Dilma Rousseff dan Michel Temer. Angka deforestasi naik pesat pada 8 bulan pemerintahan Bolsonaro.

Jair Bolsonaro, Presiden Brazil

Bagaimana dengan Indonesia? Setiap tahun pun hutan Indonesia dilanda oleh kebakaran. Tahun 2019 bukan pengecualian, tetapi ada catatan (lebih) baik di tahun ini dibanding oleh tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini jumlah lahan yang terbakar hanya seperempat dibandingkan dengan tahun 2015. Menurunnya angka ini selain disebabkan oleh ekstrimnya cuaca dan El Nino yang melanda di tahun 2015, ini juga berkat hasil usaha bersama pemerintah dan masyarakat. Presiden Indonesia Joko Widodo telah mengambil beberapa langkah dalam pengendalian kebakaran hutan. Mulai dari perpanjangan moratorium dalam izin pengelolaan lahan hutan dan lahan gambut, usaha mengembalikan dan meningkatkan kadar air di area tanah gambut seluruh Indonesia oleh Badan Restorasi Gambut (https://brg.go.id) yang baru saja dibentuk, hingga mengancam mencopot jajaran polisi dan tentara yang gagal mencegah kebakaran hutan di daerah masing-masing. Kepolisian Republik Indonesia juga mempersiapkan menggugat pelaku kebakaran hutan, berjumlah 454 tergugat orang dan 85 orang telah ditahan baru-baru ini.

Perusahaan-perusahaan pun tidak luput dari incaran pihak berwenang. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan baru-baru ini mengganjar denda untuk PT Natinal Sago Prima sebanyak 1,07 Triliun Rupiah, dan pengadilan Sumatra Selatan mendenda PT Bumi Mekar Hijau sebesar 79 Miliar Rupiah. Selain itu 30 perusahaan juga dicabut izinnya baik sementara maupun permanen, dan 10 perusahaan lain sedang diproses.

Para petinggi-petinggi agama pun tidak tinggal diam dan turut serta berkontribusi. MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan fatwa bahwa adalah haram bagi umat Islam untuk dengan sengaja membakar hutan. Pihak MUI dan pemerintah berharap fatwa ini akan menegur dengan keras bagi umat Muslim yang dengan sengaja merusak lingkungan untuk kepentingan ekonomi.

Bagaimana dengan peran komunitas internasional?

Sekjen PBB dan kepala-kepala negara, serta selebriti-selebriti internasional telah menyampaikan kekhawatirannya atas kebakaran hutan yang melanda Brazil dan Indonesia. Kebakaran Hutan Amazon telah menjadi salah satu agenda penting di pertemuan G7 di Prancis, dan dana sebesar Rp 285 miliar telah dijanjikan untuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Amazon.

Sedangkan kebakaran hutan di Indonesia tahun ini walaupun kalah pamor (dan untungnya juga kalah jumlah titik api dan area yang terbakar) dari kebakaran Amazon, juga mendapat perhatian dari kalangan internasional. Berbagai negara sahabat seperti Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, dan lain-lain rutin mengirimkan bantuan berupa alat, personel, dan materi untuk membantu mengendalikan karhutla Indonesia.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai individual?

Semua berasal dari kita sendiri, masyarakat yang hidup di daerah-daerah yang terdampak kebakaran hutan. Siapa yang membakar? Kita. Siapa yang terpengaruh? Kita. Siapa yang rugi? Kita. Siapa yang mengalami gangguan kesehatan? Kita. Siapa yang tahun depan bakar hutan lagi? Kita juga.

Tetapi bila ditanya siapa yang diuntungkan dengan mudahnya membakar hutan untuk pembebasan lahan? Maka sayangnya jawabannya tidak selalu kita. Hutan memiliki peran penting di ekosistem dan stabilisasi cuaca. Hutan membantu mencegah banjir di musim hujan dan turut berperan membantu meredam pengaruh kemarau panjang. Gangguan kesehatan, pernafasan, dan lainnya tercatat telah menyebabkan secara langsung maupun tidak langsung, atas 100.000 angka kematian.

Mari berpikir dua kali sebelum membebaskan lahan dengan membakar hutan. Apakah pantas kita semua merusak jutaan hektar hutan alami pertahun, hanya untuk kemudahan dan dampak ekonomi jangka pendek? Apakah pantas kita merusak mata pencaharian masyarakat-masyarakat yang hidup dari hasil hutan bukan kayu, dan budaya, tradisi serta cara hidup mereka? Apakah pantas kita merusak habitat flora dan fauna Indonesia yang terkenal begitu kaya dan akan dinikmati anak cucu kita jauh setelah kita kembali ke dalam tanah?

Mari bersama kita cegah kebakaran hutan. Hutan adalah sumber kehidupan. Lestarikan hutan Indonesia dan dunia. Mulai dari kita sendiri. Sekarang.

Baca Juga : Masih Bisakah Anak Cucu Kita Melihat Hutan Kalimantan
Baca Juga : Kawasan Konservasi Alam Danau Sentarum
Baca Juga : 7 Destinasi Wajib Pecinta Alam di Kalimantan Barat

Bajakah, Tanaman Obat Kanker Yang Mencuri Perhatian

Bajakah tiba – tiba menjadi tanaman terkenal, sebelumnya bajakah hanya tanaman biasa yang terdapat di hutan Kalimantan. Apa yang menjadikan tanaman ini sekarang banyak diburu dan ditebang?

Bajakah diyakini bisa menyembuhkan Kanker dan mempunyai antioksidan yang tinggi. Bermula dari penelitian Yazid Rafli Akbar, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani siswi SMKN 2 Palangkaraya di laboratorium sekolah kemudian dilanjutkan tahap berikutnya menggunakan tikus sebagai bahan uji coba yang disuntik dengan sel tumor atau kanker dan tikus tersebut dinyatakan sehat.

Dengan modal penelitian awal dan didorong oleh guru Biologi Ibu Helita yang mengajar di sekolah, mereka pun melanjutkan penelitian tersebut. Dari hasil penelitian selanjutnya, ditemukan bahwa kayu Bajakah memiliki kandungan antioksidan dalam jumlah yang sangat tinggi.

Credit: Google Image Search

Hasil Penelitian selanjutnya diolah menjadi serbuk dan dibawa mengikuti lomba Youth Nation Science Fair 2019 pada skala dalam negeri dan mendapatkan medali emas. Dari sana terbuka pintu menuju ajang yang lebih tinggi lagi di tingkat Inernational di Seoul dan akhirnya penelitian kayu Bajakah dinobatkan sebagai juara dunia. Jalan untuk Bajakah menjadi tanaman yang bisa menyembuhkan penyakit kanker masih panjang, masih dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut karena masih ada tahapan yang harus dilalui. Menurut Koordinator Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Danang Ardiyanto, ada 2  uji tahap yang harus dilakukan, yaitu uji pra klinik dan uji klinik.

A. Uji Pra Klinik

Uji pra klinik dimulai dengan riset menggunakan hewan  dan mempunyai 5 tahapan, yaitu:

Uji Eksperimental in Vitro

Uji Eksperimental in Vitro bertujuan untuk membuktikan klaim sebuah obat. Ekstrak diberikan pada sebagian organ yang terisolasi, kultur sel atau mikroba. Pengamatan dilakukan pada efek yang ditimbulkan. namun sayangnya, eksperimen in vitro seringkali gagal dalam meniru kondisi selular dengan akurat, terutama pada mikroba. Penelitian ini menyebabkan ketidaksesuaian kesimpulan dengan keadaan yang diambil dalam organisme hidup

Uji Eksperimental in Vivo

Pngujian in vivo diterapkan pada hewan percobaan secara langsung untuk membuktikan klaim obat, uji coba dilakukan pada hewan seperti tiku, anjing, kucing, kelinci ataupun mencit. Tapi pendekatan ini tak luput dari sesat kesimpulan, misalnya, tetapi hanya menawarkan manfaat jangka pendek dan bahaya dalam jangka panjang.

Uji Toksisitas Akut

Uji toksisitas akut tergolong dalam uji pra klinik yang berfungsi untuk mengukur pengaruh efek toksik suatu senyawa dalam jangka waktu tertentu setelah diberikan dosis tunggal untuk mengetahui LD (lethal Dose) 50 dalam sebuah obat. Semakin tinggi LD 50, maka obat semakin aman.

Uji Toksisitas Subkronik

Uji Toksisitas Subkronik adalah uji pra klinik untuk mengidentifikasi ciri fisik maupun organ yang diberikan senyawa uji secara berulang dalam waktu tertentu yaitu selama 28 atau 90 hari (Casarett dan Doull, 2008). Setiap hari dalam 3 bulan, hewan diberi ekstrak. Tujuannya untuk mengamati kelainan akibat konsumsi obat yang diamati. Efek akumulasi obat menjadi fokus dalam tahap ini.

Uji Toksisitas Khusus

Tujuannya untuk melihat keamanan obat dalam jangka panjang.

B. Uji Klinik Pada Manusia

Ada 4 tahapan yang harus dilalui untuk melakukan pengujian ini, antara lain:

Uji Klinik Fase 1

Untuk mengetahui efek dan farmakokinetik (proses obat sejak diminum hingga ke luar dari tubuh). Uji ini dilakukan pada relawan yang sehat untuk mengetahui keamanannya.

Uji Klinik Fase 2

Selanjutnya obat diberikan bagi orang sakit untuk membuktikan khasiatnya.

Uji Klinik Fase 3

Jumlah sukarelawan diperbanyak dan lokasi diperluas. Apabila hasil uji klinik obat teruji aman, maka uji klinik dapat memasuki tahap selanjutnya untuk mendapatkan izin edar dan dapat mulai dipasarkan.

Uji Klinik Fase 4

Fase ini untuk memastikan obat yang beredar di masyarakat tidak ada bahayanya dan memiliki harga yang baik.

Sumber : Michelle Natasya – DetikHealth, Selasa, 13 Agustus 2019

Baca Juga : Kratom, Psikotropika Lokal yang Mendunia
Baca Juga : Madu Hutan dan Pelestariannya
Baca Juga : 13 Manfaat Mentega Tengkawang

Masih Bisakah Anak Cucu Kita Melihat Hutan Kalimantan?

Kalimantan sebagai pulau nomor tiga terbesar di dunia, dan diselimuti hutan alami sudah lama dikenal sebagai “Paru-Paru Dunia” yang sangat berkontribusi dalam membantu meredam pemanasan global. Tetapi apakah status itu akan bertahan? Menjamurnya industri-industri baik legal dan illegal serta maraknya masyarakat berpikiran pendek kemudian membersihkan lahan dengan cara membakar, membuat Kalimantan dari salah satu penghasil oksigen terbesar di dunia, menjadi salah satu penyumbang Karbon Dioksida terbesar di dunia.

Menurut analisis citra satelit, dari 55 juta hektar di Pulau Kalimantan, terdapat 32 juta hektar hutan alami di tahun 2000 atau sebanyak 58% dari total area pulau Kalimantan. Kemudian hutan di Pulau Kalimantan di tahun 2009 berkurang sebanyak 2,7 juta hektar, dan kemudian berkurang lagi sebanyak 2,2 juta hektar di 2016. Pada tahun 2016, Pulau Kalimantan hanya memiliki 49% hutan alami dari total areanya atau sebanyak 27 juta hektar.

Tingkat deforestasi (penggundulan hutan) pun meningkat dari tahun ke tahun nya. Dari yang awalnya 300.000 hektar pertahun (0,9%) antara tahun 2000 hingga 2009, menjadi 320.000 hektar pertahun antara tahun 2009 dan 2016. Walaupun hingga sejauh ini tingkat deforestasi Kalimantan hanya setengah dari tingkat deforestasi di Sumatera, bila tidak dilakukan pencegahan, hutan alami kita akan semakin terancam.

Seiring berkurangnya lahan yang cocok untuk industri perkayuan dan penanaman kelapa sawit berkurang, para perusahaan-perusahaan mulai berekspansi ke daerah-daerah yang tadinya adalah hutan alami. Selain itu, pembangunan infrastruktur seperti  pembangunan jalan yang membelah hutan, meskipun sangat dibutuhkan untuk merangsang ekonomi daerah, juga mempunyai bahaya tersendiri untuk hutan alami kita. Hutan yang tadinya tak terganggu karena begitu sulit dijangkau, mulai dilirik dan dikonversi menjadi lahan industri. Penambangan, terutama penambangan batu bara juga sangat mengancam kelestarian hutan kita.

Banyaknya masalah yang mengancam kelestarian hutan kita memang butuh waktu dan dana yang besar untuk diselesaikan sekaligus. Tetapi jika kita sebagai masyarakat tidak memulai peran kita dari sekarang, lantas kapan Kurangnya inisiatif pemerintah Republik Indonesia dalam mencegah dan mengatasi memburuknya masalah perubahan iklim memang terkadang membuat kita putus asa. Tetapi sebagian masalahnya juga dimulai dari kita sendiri.

Hindari membakar hutan untuk membuka lahan, laporkan penebangan hutan dan pembebasan lahan illegal yang dilakukan perusahaan-perusahaan pertambangan dan kelapa sawit. Mulailah dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan di sekitar kita, agar anak-anak kita bisa bangga menjadi warga Kalimantan, pulau hijau dan pusat paru-paru dunia. Hutan ini adalah milik kita bersama, dan harus kita jaga bersama.

Dari sisi pemerintah, ayo kita berpartisipasi dalam pengembalian hutan rusak, bagaimanapun pemerintah kita memainkan peran penting dalam restorasi, dan regulasi untuk mencegah deforestasi kedepannya. Mari rakyat dan pemerintah kita sama-sama menjaga asrinya hutan Borneo.

Maju dan Tumbuh bersama UMKM Kalbar!

Baca Juga : Madu Hutan dan Pelestariannya
Baca Juga : 7 Destinasi Wajib Pecinta Alam di Kalimantan Barat
Mentega Tengkawang, Bahan Kosmetik Super asli Kalimantan Penantang Shea Butter