Anggrek Tanaman Eksotis Kalimantan Barat

Anggrek si tanaman hias yang mempunyai bentuk yang eksotis dan menjadi tanaman yang diburu oleh kolektor-kolektor penghobi tanaman anggrek. Anggrek adalah tanaman yang menjadi primadona di seluruh dunia. Indonesia yang memiliki alam yang masih indah dan hutan-hutan yang masih terpelihara memiliki 5000 – 6000 spesies dari total 26.000 spesies. Indonesia boleh berbangga karena masuk ke dalam negara ke-2 di dunia yang memiliki spesies anggrek terbanyak setelah negara Brazil.

Di daerah Kalimantan Barat sendiri hutan-hutan di pedalaman menyimpan keanekaragaman Anggrek. Di Indonesia Provinsi Kalimantan Barat masuk urutan ke-2 yang memiliki potensi Anggrek yang besar dibawah Papua.

Salah satu narasumber yang berhasil kami temui adalah Bapak Ulung Sunandar yang bekerja di UPTD Agribisnis Pemerintah Kota Pontianak yang membaktikan dirinya untuk mengurus tempat pembibitan dan pengembangan anggrek di Aloe Vera Center Jl. Budi Utomo sejak tahun 2005 sampai sekarang, ada 100 jenis tanaman anggrek yang dimiliki oleh UPDT Agribisnis Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak dan berhasil dikembang-biakkan dengan sistem Kultur Jaringan.

Beberapa jenis tanaman anggrek yang bisa ditemui di Kalimantan Barat, antara lain:

1. Anggrek Ekor Tikus  (Paraphalaenopsis Sepentilingu)

Credit: Google Image Search

Anggrek Ekor Tikus masuk dalam salah satu genus Paraphalaenopsis. Genus ini mempunyai 4 jenis species yaitu Paraphalaenopsis denevei, labukensis, serpentilingua dan laycockii. Tanaman Anggrek jenis ini dapat hidup di hutan rawa yang memiliki tempat yang teduh dengan ketinggian di bawah 1000 meter dan cahaya matahari yang hanya 50 persen.  Anggrek ekor  tikus merupakan tanaman yang hampir punah dan termasuk tanaman khas Kalimantan Barat

2.  Anggrek Hitam (Coelogyne Pandurata)

Credit: Google Image Search

Tanaman Anggrek yang memiliki warna bunga hijau dan panjang sekitar 15-20 cm. Anggrek hitam mempunyai lidah (labellum) yang berwarna hitam dengan garis-garis berwarna hijau dan berbulu. Bunga anggrek hitam memiliki aroma wangi semerbak Bunga ini mekar pada bulan Maret sampai bulan Juni. Semakin berumur, warna bunga akan menjadi berwana hitam.

3. Anggrek Tebu (Grammatophyllum speciosum)

Credit: Google Image Search

Tanaman Anggrek Tebu yang memiliki berat yang bisa mencapai 1 ton dan ukuran  yang besar, bunganya bisa mencapai 100 kuntum dengan diameter 10 cm dan batangnya yang mirip dengan tanaman tebu, sehingga dinamakan Anggrek Tebu. Bunga anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum) berwarna kuning dengan bintik-bintik berwarna coklat, merah atau merah kehitam-hitaman. Bunga anggrek tebu tahan lama dan tidak mudah layu. Meskipun telah dipotong dari batangnya bunga raksasa yang super besar dan berat ini mampu bertahan 2 bulan.

4. Anggrek Bulan (Phalaenopsis Amabilis)

Anggrek jenis ini hidup menempel pada batang atau cabang pohon di hutan dan tumbuh hingga 600 meter di atas permukaan laut. Anggrek bulan termasuk dalam tanaman anggrek monopodial yang menyukai sedikit cahaya matahari sebagai penunjang hidupnya. Daunnya berwarna hijau dengan bentuk memanjang. Akar-akarnya berwarna putih dan berbentuk bulat memanjang serta terasa berdaging. Bunganya memiliki sedikit keharuman dan waktu mekar yang lama serta dapat tumbuh hingga diameter 10 cm lebih.

Di akhir obrolan terselip pesan dari Bapak Ulung untuk turut serta menjaga tanaman anggrek khas Kalimantan Barat agar tidak punah. Bagi yang ingin tahu lebih banyak tentang tanaman anggrek bisa datang ke Aloe Vera Center UPTD Agribisnis Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, Jl. Budi Utomo No. 29, Siantan Hulu, Pontianak.

Sumber : Bp Ulung Sunandar. Wikipedia, J.J. SM AD Hawks

Baca Juga : Festival Durian Bumi Khatulistiwa 2019, Festival Durian Pertama Tingkat Provinsi Kalimantan Barat
Baca Juga : STQ Ke-25 Membawa Berkah Bagi UMKM di Pontianak
Baca Juga : Jenis-Jenis Kopi di Kalbar

Minuman Tradisional Menembus Zaman

Indonesia yang kaya akan hasil alam melimpah menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil rempah – rempah terbesar di dunia. Indonesia mencatatkan diri sebagai negara yang patut dikunjungi untuk mencari sumber kekayaan  rempah-rempah. Melimpah ruahnya hasil rempah – rempah Indonesia sejak zaman dahulu melahirkan juga berbagai kreasi minuman khas tradisional yang sampai saat ini menjadi minuman yang digandrungi oleh orang tua dan anak muda. Beberapa anak muda mulai mengkreasikan minuman tradisional menjadi lebih menarik dan memiliki nilai jual yang tinggi dengan tetap mengutamakan bahan-bahan alami yang di dapat dari alam. Minuman – minuman tradisional yang masih di gandrungi,  antara lain:

1. Wedang Jahe

Credit: Google Image Search

Minuman hangat ini berasal dari Jawa Tengah dan enak untuk disajikan setiap saat. Wedang jahe menjadi minuman tradisional yang akan diulas  pertama. Dengan bahan yang mudah didapatkan dari pasar tradisional,  diracik menjadi minuman kesehatan alami. Selain menjadi minuman, jahe berkhasiat juga untuk mengusir masuk angina hingga perut mulas.

2. Wedang Secang

Credit: Google Image Search

Minuman ini dulunya menjadi minuman Keraton Yogyakarta dan khusus dibuat untuk minuman para sultan dan Abdi Keraton.  Bahan-bahan yang digunakan juga sangat dirahasiakan tetapi oleh beberapa peracik minuman Keraton di bawa keluar dan di racik untuk masyarakat umum dan akhirnya menjadi minuman yang tidak hanya terkenal di wilayah Yogyakarta tetapi juga di luar Yogyakarta.  Minuman Secang bisa untuk mengusir perut kembung, masuk angin, juga untuk hipertensi.  Kayu secang mendominasi campuran dari minuman ini, dengan warna merah  belum lagi ditambah dengan rempah – rempah jenis lain makin menambah aneka rasa yang ditonjolkan wedang secang.

3. Kunyit Asam

Credit: Google Image Search

Pernah melihat atau meminum minuman yang satu ini? Biasanya juga disediakan oleh ibu – ibu penjual jamu gendong. Minuman kesehatan ini juga sering dikonsumsi oleh para wanita, serta anak – anak. Selain rasanya yang unik, kunyit asam juga bagus untuk merawat kecantikan. Dengan bahan yang mudah di dapatkan dipasar menjadikan minuman ini sangat mudah untuk diolah.

4. Limun Sarsaparilla

Credit: Google Image Search

Masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta tidak asing dengan limun sarsaparilla. Minuman Yogyakarta yang rasanya seperti minuman terkenal dari luar negeri, yaitu A&W. Masyarakat Yogyakarta biasa menyebutnya cola Jawa. Minuman ini awal mulanya hanya disediakan bagi kaum bangsawan dan hanya disajikan di saat ada perayaan besar, seperti pernikahan dan acara – acara besar lainnya.  Limun Sarparila sekarang tersedia di warung – warung makan dan minum terkenal di Yogyakarta.

5. Wedang Uwuh

Credit: Google Image Search

Sekilas kita akan bingung karena terdapat berbagai macam rempah – rempah yang dicampur  ke dalam minuman ini. Uwuh adalah minuman khas Imogiri, Bantul Yogyakarta, minuman ini mirip dengan minuman secang hanya yang membedakannya adalah berbagai macam rempah – rempah yang dicampurkan ke dalam wedang uwuh.

6. Bir Pletok

Credit: Google Image Search

Minuman yang satu ini berasal dari Betawi dan tidak mengandung alkohol. Dengan berbagai macam ramuan rempah – rempah menjadikan minuman ini salah satu daya tarik bagi kita yang ingin mencoba. Tidak susah untuk meracik minuman sehat ini dan cocok diminum di saat badan kita sedang tidak fit.

7. Lidah Buaya

Credit: Google Image Search

Lidah buaya yang khas dari Kalimantan Barat juga dijadikan minuman segar dan punya kandungan vitamin yang bagus, bukan hanya untuk kulit tetapi juga untuk penderita diabetes. Di Kalimantan Barat khususnya Pontianak, lidah buaya dapat ditemukan di daerah Budi Utomo dan Rasau Jaya. Campuran lidah buaya banyak dikreasikan ke dalam minuman dan di buat juice. Kalau berkunjung ke Kalimantan Barat jangan lupa untuk mencoba minuman kesehatan lidah buaya.

Minuman-minuman yang dibahas di atas merupakan minuman asli dari Indonesia, sebagai anak bangsa kita harus terus berupaya melestarikan minuman-minuman tradisional ini supaya tidak punah dan selalu dikenang selalu sepanjang masa.

Baca Juga : Madu Hutan dan Pelestariannya
Baca Juga : 13 Manfaat Mentega Tengkawang
Baca Juga : Kratom, Psikotropika Lokal yang Mendunia

LIDAH BUAYA YANG MENDUNIA

Lidah buaya tanaman yang mempunyai nilai jual dan historis yang tinggi, bisa dijadikan bahan dasar kosmetik, makanan, minuman dan juga untuk kebutuhan farmasi. Lidah buaya diduga berasal dari kepulauan Canary di sebelah barat Afrika, banyak sekali referensi yang menyatakan bahwa lidah buaya sudah dipergunakan sejak zaman dahulu bahkan dalam buku Egyptian Book of Remedies diceritakan bahwa lidah buaya sudah dimanfaatkan untuk bahan kosmetik, pelembab kulit, dan tanaman yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan penyakit.

Menurut Downing (1885), hanya 3 jenis lidah buaya yang dibudidayakan secara komersial di Dunia, yaitu Curacao aloe (Aloe Barbadensis Miller), Cape Aloe (aloe Ferox Miller) dan Socotrine (Aloe perryl Baker). Dari ketiga jenis tersebut, aloevera yang paling banyak digunakan adalah species Aloe Barbadensis Miller. Ada satu jenis lagi yang banyak dikembangbiakkan di Indonesia yaitu Aloe Chinensis Baker yang berasal dari Cina. Jenis ini banyak ditanam di Pontianak dan orang-orang di Pontianak mengenalnya dengan sebutan lidah buaya Pontianak.

Karakteristik Aloevera :

1. Curacao Aloe ( Aloe Barbadensis Miller )

Curacao Aloe memiliki ciri-ciri antara lain bentuk daunnya lebar dibagian bawah dengan pelepah bagian atas cembung, lebar daun 6-13 cm memiliki lapisan lilin pada yang tebal pada daun, terdapat duri di bagian pinggir daun, batang tidak terlihat, tinggi bunga (mm) : 25-30 (tinggi tangkai bunga 60-100 cm), dan warna bunga kuning

2. Cape Aloe (Aloe Ferox Miller)

Lidah buaya jenis ini mempunyai bentuk daun yang lebar di bagian bawah, batangyang erlihat jelas (tinggi 3-5m atau lebih), lebar daun 10-15 cm, lapisan lilin yang tebal pada daun, duri di bagian pinggir dan bawah daun, tinggi bunga 35-40mm, dan warna bunga merah tua hingga jingga.          

3. Socotrine (Aloe perryl Baker)

Lidah buaya Socotrine mempunyai ciri khas yaitu bentuk daun yang lebar di bagian bawah, batang tidak terlihat jelas (lebih kurang 0.5 m), lebar daun 5-8 cm, lapisan lilin pada daun yang tipis, terdapat duri di bagian pinggir daun, tinggi bunga 25-30 mm, dan warna bunga merah terang.

4.  Aloe Chinensis Baker

Jenis yang banyak dikembangkan di Pontianak ini memiliki ciri-ciri antara lain warna bunga cenderung jingga , terdapat lapisan putih yang tipis pada pelepah tanaman dewasa, pelepah berwarna hijau terang, memiliki bintik, pelepah menyilang ke atas bukan melebar, ujung pelepah sedikit cekung dengan ketabalan rata-rata 1,5 – 2 cm (tanaman dewasa) dan bobot per pelepah dewasa dapat mencapai berat 8 ons – 1.5 kg.

Lidah Buaya Pontianak

Lidah buaya Pontianak dikembangkan dan dibudidayakan di daerah Siantan Hulu, awalnya belum dibudidayakan secara khusus dan dicampur dengan tanaman pepaya, juga sayuran. Lidah buaya baru dibudidayakan secara khusus pada tahun 1992 dan dijual di pinggir jalan Budi Utomo. Lidah buaya Pontianak dikembangkan menjadi produk olahan makanan, minuman dan juga kosmetik. Pemerintah daerah Kalimantan Barat melihat begitu besar potensi dari aloevera dan mulai merintis Aloevera center yang dijadikan Pusat Pengkajian Dan Pengembangan Lidah Buaya Nasional dan diresmikan oleh Menteri Riset Dan Teknologi / Kepala BPPT IR. M. Hatta rajasa pada tanggal 06 juli 2002.

Aloevera center yang berada di Jalan Budi Utomo ini menjadi magnet bagi pengunjung dari Pontianak, luar daerah dan luar negeri. Para pengunjung diberi edukasi mengenai tanaman lidah buaya, bagaimana tanaman ini dikembangkan secara kultur jaringan. Metode ini dilakukan untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sel, jaringan, organ serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptic, sehingga bagian – bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan meregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Para pengunjung yang datang juga bisa membeli produk oleh-oleh khas yang dibuat dari lidah buaya. Bagi pengunjung dalam maupun luar negeri wajib mengunjungi Aloevera Center. Aloevera Center dibawah Updtd Agribisnis Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak menghimbau kepada seluruh masyarakat Kalbar untuk ikut mengembangkan dan melestarikan tanaman lidah buaya supaya tidak punah dan terjaga habitatnya.

Besar harapan dari masyarakat Kalbar khusunya daerah Pontianak agar terus dibangun tempat wisata edukasi lain dan tempat penghijauan di daerah Pontianak dan wilayah lain di Kalbar. Semoga makin banyak gerakan untuk selalu menghijaukan kembali daerah Kalbar. Jadikan Kalimantan Barat kembali menjadi Paru-paru bagi Dunia.

(sumber : Sapriyanto, mahasiswa Universitas Tanjung Pura Pontianak dan UPDTD Agribisnis Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak )