Kota mati, begitu sebutan bagi suatu wilayah yang benar-benar tidak berpenduduk. Konon, kota mati sering dikaitkan dengan hal-hal mistis yang menakutkan. Hal ini disebabkan berbagai alasan yang mendasarinya, sehingga masyarakat setempat memilih untuk meninggalkan kota tersebut dan karena sudah tidak ada lagi aktivitas, menyebabkan kota tersebut menjadi mati. Bisa jadi karena bencana, masalah ekonomi, konflik berkepanjangan, hingga kesalahan strategi atau perencanaan pembangunan, kota-kota tersebut ditinggalkan dan bangunan yang ada dibiarkan menjadi reruntuhan.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini merupakan sejumlah kota yang dijuluki sebagai kota mati di dunia.

Pripyat, Ukraina

Kota Pripyat berada di Ukraina, bekas wilayah Uni Soviet (saat ini Russia). Kota Pripyat terletak di bagian utara negara tersebut, keberadaannya tidak jauh dari perbatasan Belarus. Kota ini ditinggalkan penduduknya karena terdapat kontaminasi radioaktif yang sangat tinggi di wilayah tersebut. Hal ini karena terjadi ledakan reaktor nuklir Chernobyl pada tanggal 26 April 1986.

Tingkat radiasi di Kota Pripyat belum kunjung membaik meski sudah 35 tahun pasca terjadinya bencana tersebut. Kota Pripyat masih diklaim belum layak untuk dihuni hingga sekarang karena tingkat radiasinya yang tinggi akan membahayakan nyawa manusia. Dahsyatnya ledakan reaktor nuklir saat itu disebut-sebut sebagai salah satu bencana nuklis terparah dan terburuk sepanjang sejarah.Bencana nuklir di Chernobyl  terjadi karena ada serangkaian uji coba terkait prosedur keamanan reaktor.Tujuannya  memastikan kemampuan reaktor dapat bekerja dengan stabil saat keadaan simulasi mati listrik sedang berlangsung. Simulasi yang sama dimulai sejak tahun 1982, tetapi simulasi tersebut belum memperlihatkan hasil yang maksimal.

Akhirnya, simulasi keempat dilakukan tanggal 26 April 1986. Nahas, pada waktu tersebut terjadilah sebuah ledakan pada reaktor nuklir keempat. Saat ledakan reaktor keempat terjadi, gas radioaktif berbahaya langsung menyebar melalui udara dalam jumlah luar bisa besar. Hal ini membuat daerah sekitar  terkontaminasi. Kota yang terdekat dengan lokasi ledakan tersebut adalah Pripyat. Saat ini, Pripyat masih dibuka untuk umum. Wisatawan yang ingin berkunjung ke sana diwajibkan patuh menjalani prosedur yang sangat ketat karena mempertimbangkam tingkat radiasi yang masih sangat tinggi.

Ani, Turki

Terletak di perbatasan Timur Turki, tepatnya di seberang Sungai Akhurian, ada sebuah kota tersembunyi yang berusia lebih dari 1.600 tahun. Kota metropolis yang penuh sejarah ini bernama Ani. Sebagian orang menjuluki Kota Ani sebagai “Kota 1001 Gereja”, sebagian lagi menjulukinya “Kota 40 Gerbang”. Kota ini dibangun pada abad 5 Masehi di bawah pemerintah Armenia. Nama Ani berasal dari seorang sejarawan Armenia bernama Ani-Khamakh.

Selama abad ke-9 Masehi, kota Ani berada di bawah kekuasaan Dinasti Bagratuni dari Armenia dan saat itu kota Ani berada di puncak kejayaannya. Kota Ani mengalami kemajuan di bidang ekonomi, sosial, dan budaya, serta perdamaian di seluruh negeri. Sebuah konflik di keluarga istana terjadi pada abad ke-10 Masehi yang membuat kota itu kehilangan pengaruhnya. Ditambah, pasukan Yunani mengambil alih kota Ani pada 1045. Tidak lama setelah Yunani berkuasa di kota Ani, Sultan Alp Arsian dari Turki melakukan penyerangan ke kota itu pada tahun 1064. Selama Turki berkuasa di kota Ani, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap penduduk kota Ani. Banyak penduduk Ani yang melarikan diri ke kota-kota terdekat atau membangun desa baru di wilayah yang jauh dari kota Ani. Penderitaan penduduk Ani semakin bertambah tatkala terjadi perang besar antara suku Kurdi dengan kerajaan Georgia. Banyak korban jiwa berjatuhan dari kedua belah pihak, termasuk juga penduduk asli kota Ani yang masih bertahan. Peperangan itu berakhir pada tahun 1199 setelah suku Kurdi dikalahkan oleh pasukan Georgia.

Kota Ani berubah menjadi kota mati dan tidak ada yang menduduki wilayah itu selama lebih dari tiga abad. Hal ini terjadi karena kota Ani berada di zona militer perbatasan Turki dan Armenia. Sisa-sisa bangunan yang ada ditinggalkan tanpa adanya perawatan, ditambah kondisi alam yang tidak menentu membuat kota Ani semakin memberi kesan seram dan penuh misteri. Kota bersejarah ini ditemukan oleh sekelompok arkeolog pada tahun 1921. Suasana mencekam bekas perang dan pembantaian masih terasa di kota Ani. Global Fund Heritage menyatakan bahwa kota Ani berada di ambang kehancuran karena banyak bangunan yang tidak bisa diperbaiki, selain itu juga sisa-sisa bangunan terancam rata dengan tanah akibat berada di zona konflik.

Wittenoom, Australia

Sebuah kota bernama Wittenoom di Australia menjadi salah satu tempat paling berbahaya dan paling terkontaminasi di planet bumi. Kota mati ini merupakan bekas tambang asbes yang beracun. Letaknya jauh di daerah terpencil di Pilbara, Australia Barat.

Bahan kimia yang digunakan untuk membuat asbes tersebut bocor dan hampir menyebar keseluruh kota. Tidak dapat dielakkan, kejadian tersebut mengakibatkan sekitar 25% penduduk Wittenoom meninggal keracunan. Pemerintah Australia bahkan menyebut Wittenoom sebagai tragedi kesehatan dan keamanan kependudukan terbesar di Australia. Paparan asbes menyebabkan penyakit mematikan seperti mesotelioma (bentuk langka yang mempengaruhi selaput tipis yang melapisi dada dan perut), asbestosis, dan kanker paru-paru. Gejala ini dapat terjadi beberapa dekade setelah paparan baik banyak maupun sedikit.

Langkah tegas pemerintah Australia menyikapi paparan mematikan abses di Wittenoom adalah menghapus Wittenoom dari peta resmi yang menghilangkan statusnya sebagai kota, menghilangkan rambu-rambu jalan menuju kota Wittenoom, memutus jaringan listrik, dan memasang papan yang berisi tanda bahaya. Parahnya, Wittenoom malah menjadi pusat wisata yang berhasil mendatangkan ribuan wisatawan setiap tahun hanya untuk mengambil foto dan mengunggah kota mati tersebut ke media sosial.

Pemerintah setempat telah berupaya maksimal dengan mengeluarkan peringatan yang melarang semua orang untuk mengunjungi Wittenoom, tetapi beberapa unggahan video maupun foto wisatawan yang berkunjung di sana menunjukkan bahwa para turis tidak mengindahkan peringatan keselamatan tersebut.

Centralia, Pennsylvania – Amerika Serikat

Centralia, sebuah kota yang terletak di Amerika Serikat merupakan wilayah yang menyimpan kisah kelam di dalamnya. Kota Centralia dijuluki sebagai ‘neraka dunia’ sejak kebakaran bawah tanah yang melanda wilayah tersebut. Semua jalanan aspal retak, ditambah gumpalan asap yang keluar dari celah-celah aspal tersebut. Kota ini bahkan tertutupi oleh gas beracun yang membahayakan hidup.

Dahulu, populasi di kota ini cukup banyak, menginjak seribu jiwa di tahun 1981. Bencana bermula saat pemerintah setempat mempekerjakan lima orang untuk membersihkan tempat pembuangan sampah dengan cara membakarnya. Pembakaran tersebut nampak normal, tetapi yang tidak diketahui adalah kobaran api ternyata merembet ke bawah dan menyebar melalui sebuah lubang yang mengarah ke bekas tempat tambang batu bara sedalam 91 meter yang ada di bawah kota. Api merayap sejauh 12 kilometer dan membakar area bawah seluas 15 kilometer persegi. Akibat dari peristiwa ini, muncul gas beracun karbon monoksida berkadar tinggi, sehingga menyebabkan jalanan retak dan gas keluar dari celah-celah jalan.

Api, asap, dan gas beracun membuat kota ini dan isinya berantakan. Tahun 2005, populasi kota ini menyusut menjadi hanya 12 orang. Sebagian besar rumah ditinggalkan, para penduduk dipindahkan oleh pemerintah, meskipun beberapa menolak dan masih berada di kota. Selama dua dekade, para pekerja melakukan berbagai cara untuk memadamkan api, mulai dari menyiram tambang dengan air, menggali material yang terbakar, hingga membuat parit, menimbun, serta mengebor berulang kali. Tetap saja, semua upaya yang dilakukan sia-sia.

Di sisi lain, warga yang memaksa tetap tinggal melakukannya karena berpikir pemerintah ingin menguasai properti dan tambang batu bara milik penduduk Centralia. Bahkan, perkara ini dibawa ke pengadilan. Akhirnya, tahun 2013 silam, para penduduk Centralia memenangkan hak untuk tetap tinggal di sana. Selain penduduk Centralia yang jumlahnya segelintir, kota itu baru akan terasa ramai ketika para wisatawan yang penasaran datang berkunjung. Banyak bangunan di Centralia dirobohkan. Papan peringatan tanda bahaya dipasang di dekat area Centralia. Salah satu jalan bebas hambatan yang melewati kota tersebut akhirnya ditutup dan terpaksa dialihkan memutari kota. Sampai saat ini, api masih terus terbakar di bawah kota Centralia dan diperkirakan api tidak akan padam setidaknya sampai 250 tahun ke depan.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *