Lidah buaya tanaman yang mempunyai nilai jual dan historis yang tinggi, bisa dijadikan bahan dasar kosmetik, makanan, minuman dan juga untuk kebutuhan farmasi. Lidah buaya diduga berasal dari kepulauan Canary di sebelah barat Afrika, banyak sekali referensi yang menyatakan bahwa lidah buaya sudah dipergunakan sejak zaman dahulu bahkan dalam buku Egyptian Book of Remedies diceritakan bahwa lidah buaya sudah dimanfaatkan untuk bahan kosmetik, pelembab kulit, dan tanaman yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan penyakit.

Menurut Downing (1885), hanya 3 jenis lidah buaya yang dibudidayakan secara komersial di Dunia, yaitu Curacao aloe (Aloe Barbadensis Miller), Cape Aloe (aloe Ferox Miller) dan Socotrine (Aloe perryl Baker). Dari ketiga jenis tersebut, aloevera yang paling banyak digunakan adalah species Aloe Barbadensis Miller. Ada satu jenis lagi yang banyak dikembangbiakkan di Indonesia yaitu Aloe Chinensis Baker yang berasal dari Cina. Jenis ini banyak ditanam di Pontianak dan orang-orang di Pontianak mengenalnya dengan sebutan lidah buaya Pontianak.

Karakteristik Aloevera :

1. Curacao Aloe ( Aloe Barbadensis Miller )

Curacao Aloe memiliki ciri-ciri antara lain bentuk daunnya lebar dibagian bawah dengan pelepah bagian atas cembung, lebar daun 6-13 cm memiliki lapisan lilin pada yang tebal pada daun, terdapat duri di bagian pinggir daun, batang tidak terlihat, tinggi bunga (mm) : 25-30 (tinggi tangkai bunga 60-100 cm), dan warna bunga kuning

2. Cape Aloe (Aloe Ferox Miller)

Lidah buaya jenis ini mempunyai bentuk daun yang lebar di bagian bawah, batangyang erlihat jelas (tinggi 3-5m atau lebih), lebar daun 10-15 cm, lapisan lilin yang tebal pada daun, duri di bagian pinggir dan bawah daun, tinggi bunga 35-40mm, dan warna bunga merah tua hingga jingga.          

3. Socotrine (Aloe perryl Baker)

Lidah buaya Socotrine mempunyai ciri khas yaitu bentuk daun yang lebar di bagian bawah, batang tidak terlihat jelas (lebih kurang 0.5 m), lebar daun 5-8 cm, lapisan lilin pada daun yang tipis, terdapat duri di bagian pinggir daun, tinggi bunga 25-30 mm, dan warna bunga merah terang.

4.  Aloe Chinensis Baker

Jenis yang banyak dikembangkan di Pontianak ini memiliki ciri-ciri antara lain warna bunga cenderung jingga , terdapat lapisan putih yang tipis pada pelepah tanaman dewasa, pelepah berwarna hijau terang, memiliki bintik, pelepah menyilang ke atas bukan melebar, ujung pelepah sedikit cekung dengan ketabalan rata-rata 1,5 – 2 cm (tanaman dewasa) dan bobot per pelepah dewasa dapat mencapai berat 8 ons – 1.5 kg.

Lidah Buaya Pontianak

Lidah buaya Pontianak dikembangkan dan dibudidayakan di daerah Siantan Hulu, awalnya belum dibudidayakan secara khusus dan dicampur dengan tanaman pepaya, juga sayuran. Lidah buaya baru dibudidayakan secara khusus pada tahun 1992 dan dijual di pinggir jalan Budi Utomo. Lidah buaya Pontianak dikembangkan menjadi produk olahan makanan, minuman dan juga kosmetik. Pemerintah daerah Kalimantan Barat melihat begitu besar potensi dari aloevera dan mulai merintis Aloevera center yang dijadikan Pusat Pengkajian Dan Pengembangan Lidah Buaya Nasional dan diresmikan oleh Menteri Riset Dan Teknologi / Kepala BPPT IR. M. Hatta rajasa pada tanggal 06 juli 2002.

Aloevera center yang berada di Jalan Budi Utomo ini menjadi magnet bagi pengunjung dari Pontianak, luar daerah dan luar negeri. Para pengunjung diberi edukasi mengenai tanaman lidah buaya, bagaimana tanaman ini dikembangkan secara kultur jaringan. Metode ini dilakukan untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sel, jaringan, organ serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptic, sehingga bagian – bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan meregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Para pengunjung yang datang juga bisa membeli produk oleh-oleh khas yang dibuat dari lidah buaya. Bagi pengunjung dalam maupun luar negeri wajib mengunjungi Aloevera Center. Aloevera Center dibawah Updtd Agribisnis Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak menghimbau kepada seluruh masyarakat Kalbar untuk ikut mengembangkan dan melestarikan tanaman lidah buaya supaya tidak punah dan terjaga habitatnya.

Besar harapan dari masyarakat Kalbar khusunya daerah Pontianak agar terus dibangun tempat wisata edukasi lain dan tempat penghijauan di daerah Pontianak dan wilayah lain di Kalbar. Semoga makin banyak gerakan untuk selalu menghijaukan kembali daerah Kalbar. Jadikan Kalimantan Barat kembali menjadi Paru-paru bagi Dunia.

(sumber : Sapriyanto, mahasiswa Universitas Tanjung Pura Pontianak dan UPDTD Agribisnis Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak )

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *