Banyak orang yang gemar mengkonsumsi telur sebagai makanan sehari-hari, terlebih telur dikenal murah dan praktis, sehingga selalu dijadikan pilihan stok makanan di rumah. Kandungan lemak, mineral, dan protein dalam telur yang dapat mencukupi kebutuhan berbagai nutrisi penting untuk tubuh. Tidak hanya telur rebus, telur juga bisa diolah menjadi berbagai macam masakan lezat, seperti telur dadar, telur mata sapi, dan telur orak-arik. Telur juga digunakan sebagai bahan tambahan dalam masakan lainnya.

Dibalik rasanya yang lezat dan kandungannya yang menyehatkan, ternyata masih banyak mitos yang berkaitan dengan telur. Ironisnya, mitos-mitos tentang telur yang berseliweran masih banyak dipercaya begitu saja. Fakta menyatakan, padahal mitos-mitos tersebut sama sekali tidak benar.

Putih atau Kuning?

Sebagian orang percaya bahwa mengindari konsumsi kuning telur adalah cara terbaik dalam menikmati telur. Hal ini dikarenakan kuning telur dianggap mengandung kolestrol yang tinggi sehingga berbahaya. Banyak orang menghindari kuning telur karena takut mengalami obesitas.

Faktanya, satu kuning telur berukuran sedang biasanya mengandung 168 miligram kolestrol. Jumlah ini merupakan 62 persen dari asupan harian yang direkomendasikan. Kuning telur mengandung protein tambahan dan zat-zat bermanfaat lainnya seperti vitamin D yang berperan terhadap penyerapan kalsium. Zat-zat ini juga mengandung kolin yang memastikan fungsi hati. Bahkan, terdapat zat bernama lutein yang bermanfaat untuk mata. Zat-zat ini tidak didapat dalam putih telur. Sebaliknya, putih telur dikenal kaya akan protein dan rendah kolestrol. Padahal, putih telur hanya mengandung beberapa protein dan vitamin B. Jumlah tersebut masih kalah jauh dibandingkan kuning telur.

Penelitan dari American Journal of Clinical Nutrition mengungkapkan bahwa makan satu butir telur setiap hari tidak akan menimbulkan masalah jantung dan kolestrol. Jadi, apabila hanya memasak dan mengkonsumi bagian putih telur, itu berarti Anda kehilangan sebagian manfaat yang dimiliki telur secara keseluruhan. Para ahli gizi setuju jika mengkonsumsi seluruh isi telur (putih telur dan kuning telur) bersamaan lebih baik.

Harus Simpan dalam Kulkas

Bagi sebagian besar orang di Indonesia yang menyimpan telur di dalam kulkas adalah hal yang lumrah. Sebetulnya, menyimpan telur di dalam kulkas menjadi hal yang tidak wajib dilakukan, bahkan mungkin dikatakan sebaiknya dihindari. Telur-telur yang dijual di toko atau supermarket di Indonesia pada umumnya masih dalam keadaan kotor. Pemandangan ini berbeda dengan telur-telur yang di jual di negara lain, seperti di Amerika Serikat. Telur yang dijual di Amerika Serikat merupakan telur yang sudah melewati proses dibersihkan. Alhasil, telur-telur tersebut disimpan dalam kulkas dengan suhu dingin karena sudah bersih.

Telur-telur yang sudah dicuci sangat baik untuk disimpan dalam kulkas, mengingat suhu dingin dapat mencegah penyebaran bakteri salmonella, yang memang banyak diderita oleh ayam. Mulailah biasakan menyimpan telur di suhu ruangan apabila telur masih dalam kondisi kotor. Menaruh telur di luar kulkas dapat mencegah resiko keracunan pada makanan lain.

Membuka dan menutup pintu kulkas berulang kali dapat mengakibatkan suhu menjadi tidak stabil, sehingga memicu membran telur menjadi rusak dan bakteri mudah masuk. Jika masih ingin menyimpan telur di dalam kulkas, sebaiknya gunakan wadah yang bersifat kedap udara. Wadah yang bersifat seperti ini mencegah telur menyerap bau-bauan dari makanan lain yang ada dalam satu kulkas. Suhu ruangan adalah yang paling direkomendasikan untuk menaruh telur. Telur memang akan tetap membusuk, sekalipun berada di suhu ruangan, tetapi hal tersebut akan terjadi melalui proses yang panjang.

Mitos Memilih Telur

Banyak cara yang diyakini sebagai cara tepat untuk memilah telur bagus dan buruk. Salah satu mitos yang banyak beredar adalah merendam telur dalam semangkuk air es untuk mengetahui kualitasnya. Berdasarkan cara ini, telur yang mengambang menunjukkan bahwa telur tersebut sudah tua, sebaliknya telur yang tenggelam berarti telur tersebut masih segar. Mitos ini juga menyatakan telur yang tenggelam, tetapi berdiri di satu ujungnya menunjukkan bahwa telur tersebut akan menurun kualitasnya dalam waktu dekat. 

Don Schaffner, seorang ahli makanan dari Rutgers The State University of New Jersey menyatakan memilah telur dengan merendam tidak tepat. Telur yang menua memang menyerap udara masuk melalui cangkang, tetapi ukuran sel udara antara telur yang satu berbeda dengan telur lainnya. Hal ini mengakibatkan telur yang baru ditetaskan dan telur yang sudah cukup lama memiliki reaksi yang sama saat direndam ke dalam air dingin. 

Mitos lain yang beredar di tengah masyarakat adalah anggapan terkait kualitas telur  dari kuning telur. Banyak yang menganggap warna kuning telur yang baik ialah kuning terang atau oranye dengan bagian putih yang tidak terlalu menyebar. Schaffner menyangkal anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Hal ini dikarenakan warna kuning telur tidak ditentukan berdasarkan umur atau kualitas telur, melainkan berdasarkan makanan yang dimakan oleh ayam sebelum bertelur. 

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *