Diterjemahkan dan ditambahkan dari artikel New York Times tanggal 02 Maret 2020.

Sebuah virus yang rentan, tetapi sangat mudah menular, dengan ukuran kira-kira satu per Sembilan ratus diameter rambut manusia, menyebar di berbagai komunitas di seluruh penjuru dunia. Coronavirus COVID-19, nama dari virus ini, telah menyerang lebih dari 60 negara pada saat artikel ini ditulis. Coronavirus sendiri resmi diumumkan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, melalui pernyataan resmi Presiden Jokowi bahwa 2 orang WNI positif Coronavirus COVID-19 dan sedang di isolasi di Jakarta.

Karena virus ini sangatlah baru, pengetahuan para ahli tentang penyebarannya juga masih terbatas. Tetapi mereka bisa memberikan panduan tentang bagaimana kelihatannya, Coronavirus bisa – dan tidak bisa – menyebar.

Bila Saya berpapasan dengan orang yang terjangkit Coronavirus, apakah saya akan tertular?

Katakan Anda memasuki ke sebuah tempat perbelanjaan. Seorang pebelanja disitu terjangkit Coronavirus. Apakah faktor yang paling membuat Anda beresiko tertular oleh orang tersebut?

Para ahli berkesimpulan masih banyak yang harus mereka pelajari. Tetapi sejauh ini ada 4 faktor yang sangat berperan dalam penularan Coronavirus ini.

  1. Seberapa dekat Anda dengan penderita.
  2. Seberapa lama Anda berada berdekatan dengan penderita.
  3. Apakah si penderita menyemburkan viral droplets (cairan tubuh yang mengandung virus) ke Anda.
  4. Dan seberapa banyak Anda menyentuh muka Anda.

Disamping faktor-faktor di atas, usia dan kesehatan Anda juga menjadi faktor penentu.

Apakah itu Viral Droplet?

Viral Droplet adalah semburan cairan tubuh yang membawa partikel-partikel virus. Sebuah virus adalah sejenis mikroba kecil yang terikat dengan sebuah sel, mengambil alih sel tersebut, dan melanjutkan menyerang inang yang lain. Ini adalah “gaya hidup” dari sebuah virus, cetus Gary Whittaker, sebuah profesor Virology dari Cornell University College of Veterinary Medicine.

Virus yang “telanjang” tidak bisa kemana-kemana kecuali virus tersebut “menumpang” dengan semburan lendir, saliva (air liur), ekskresi, dan cairan-cairan tubuh lainnya, ungkap Kin-on Kwok, seorang professor di Chinese University of Hong Kong’s Jockey Club School of Public Health dan Primary Care.

Indonesia mengumumkan kasus pertama Coronavirus 2 Maret 2020

Droplets lendir dan air liur ini terlontar dari mulut dan hidung saat kita batuk, bersin, tertawa, menyanyi, bernafas, dan berbicara. Bila droplets ini tidak mengenai apa-apa, biasanya mereka mendarat di lantai atau di tanah.

Untuk bisa mendapatkan akses ke sel Anda, droplets tersebut harus masuk lelalui mata, hidung, atau mulut. Beberapa ahli berpendapat bahwa bersin dan batuk adalah cara-cara utama penyebaran Coronavirus Profesor Kwok juga mengatakan berbicara tatap muka atau berbagi makanan dengan seseorang bisa beresiko menularkan virus.

Berapa Jarak yang Harus Dijaga?

Christen Lindmeier, seorang jurubicara untuk World Health Organization (WHO), badan kesehatan PBB mengungkapkan, jarak yang harus dijaga paling baik adalah sekitar 1 meter dari orang yang terjangkit.

Sedangkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) milik pemerintah Amerika Serikat mengatakan bahwa jarak penularan juga masih bisa terjadi walaupun berjarak 2 meter.

Seberapa lama saya bisa berada di dekat seorang penderita?

Hal ini belum sepenuhnya jelas, tetapi semakin banyak waktu yang Anda lewati bersama penderita, semakin tinggi pula resiko Anda juga ikut tertular. Maka hal yang paling baik dilakukan adalah menghindari berada berdekatan dengan orang yang tampak flu untuk waktu yang panjang. Faktor lainnya adalah seberapa banyak interaksi Anda dengan penderita, seperti berjabat tangan, atau berbincang-bincang. Semakin banyak interaksi juga semakin meningkatkan resiko Anda terjangkit Coronavirus.

Apakah penderita virus Coronavirus bisa dibedakan?

Belum tentu.

Bagi sebagian besar kasus yang terkonfirmasi Coronavirus, gejala-gejala yang diderita hanya Nampak seperti flu atau demam biasa. Bahkan ada beberapa orang yang positif Coronavirus COVID-19 yang tidak merasa dan mengalami flu atau demam sama sekali.

Hal-hal ini membuat mengidentifikasi siapa saja yang terjangkit Coronavirus dan berpotensi menularkan virus tersebut ke orang lain.

Semakin banyak pula kasus-kasus orang-orang yang tidak merasakan gejala apa-apa justru menularkan Coronavirus COVID-19 ke orang lain. Tetapi WHO masih percaya bahwa kasus-kasus penyebaran Coronavirus dilakukan oleh orang yang jelas tampak sedang flu pada waktu penularan, sebut Mr. Lindmeier.

Apakah virus bisa hidup di gagang pintu, layar sentuh, atau permukaan lain?

Ya. Setelah banyak orang yang mengunjungi Kuil Buddha di Hong Kong jatuh sakit, otoritas kesehatan mengambil beberapa sampel dari lokasi tersebut. Keran di kamar mandi, dan kain-kain alas taplak di kuil tersebut juga positif mengandung Coronavirus, sebut pernyataan resmi badan tersebut.

Secara harafiah, virus COVID-19 yang dikenal oleh nama “Coronavirus” hanyalah yang paling baru diantara banyak virus-virus yang berbentuk serupa dan berasal dari kategori yang sama. Coronavirus (Corona  = Mahkota) sendiri diberi nama demikian karena banyak memiliki “duri” yang muncul dari permukaannya, yang mirip dengan gambar mahkota dari matahari yang bersinar. Sebuah studi yang dilakukan juga menunjukkan bahwa Coronavirus COVID-19 bisa tinggal di bahan metal, kaca, dan plastik dari 2 jam hingga 9 hari.

Petugas bandara di Korea Selatan menyemprotkan cairan disinfektan ke fasilitas umum.

Apakah permukaan tersebut tampak kotor atau bersih tidak berpengaruh apa-apa. Bila seseorang yang terifeksi Coronavirus bersin kemudian droplets nya menempel di permukaan tersebut, orang berikutnya yang menyentuh permukaan yang sama juga bisa terjangkit. Seberapa banyak virus dan droplets yang dibutuhkan untuk menginfeksi seseorang yang sehat belum bisa dipastikan.

Coronavirus sendiri mudah dihancurkan, tambah Profesor Whittaker. Dengan menggunakan larutan disinfektan sederhana di permukaan tersebut, hampir dapat dipastikan untuk memecah “cangkang” halus yang melindungi mikroba kecil tersebut, dan kemudian membuat virus tersebut tidak berfungsi.

Selama Anda mencuci tangan sebelum menyentuh muka Anda, seharusnya Anda akan baik-baik saja, karena droplets yang mengandung virus tidak bisa menembus lapisan kulit.

Jika Anda khawatir untuk tertular dari orang yang mungkin bersin ke produk-produk yang Anda beli dari China, jangan khawatir. Karena waktu yang diperlukan untuk mengirim barang tersebut dari China atau belahan dunia lain ke tanah air, seharusnya Anda aman. Atau jika benar-benar khawatir, Anda juga bisa membersihkan permukaan benda-benda dengan cairan disinfektan atau mencuci tangan Anda setelah menyentuh benda-benda tersebut.

Apakah merk yang sabun dipakai juga berpengaruh?

Tidak, ungkap para ahli. Selama Anda mencuci tangan dan permukaan dengan bersih dan dengan sabun-sabun disinfektan bahkan sabun-sabun merk biasa sekalipun, Coronavirus hampir pasti akan terbunuh.

Tetangga saya batuk-batuk. Haruskah saya khawatir?

Sampai sekarang tidak ada bukti partikel virus COVID-19 bisa menembus dinding atau gelas, jelas Dr. Ashish K. Jha, direktur dari Harvard Global Health Institute.

Ia juga menambahkan bahwa ia lebih khawatir soal ruangan yang digunakan bersama-sama daripada bahaya yang dimiliki sistem ventilasi, selama perputaran udara di ruangan tersebut baik.

Tetangga mungkin bersin di gagang pintu atau pagar, yang dalam waktu dekat Anda sentuh. “Itu akan menjadi cara lebih natural untuk tertular dari tetangga Anda”, pungkasnya.

Bisakah saya tertular dari bermesraan dengan seseorang yang terjangkit Coronavirus?

Mencium orang-orang yang Anda sayangi jelas bisa menularkan virus tersebut, seperti dijelaskan oleh para ahli.

Walaupun Coronavirus tidak lazim untuk ditularkan secara seksual, saat ini para ahli tidak bisa menyimpulkan bisa atau tidaknya penularan melalui hubungan intim, sebut pernyataan resmi WHO.

Tetapi perlu diiingatkan bahwa jarak, waktu, dan interaksi adalah faktor-faktor terpenting penyebaran Coronavirus COVID-19.

Apakah aman untuk makan di tempat-tempat yang ada penderita Coronavirus nya?

Jika orang yang sakit tersebut ikut mempersiapkan atau menghidangkan makanan tersebut, tentu resiko ini tidak bisa dikesampingkan. Begitu juga tentang berbagi alat makan, dan menggunakan alat makan pribadi langsung ke piring lauk-pauk. Tetapi memanaskan atau memasak kembali makanan-makanan tersebut diyakini akan membunuh virus tersebut, jelas Profesor Whittaker.

Dr Jha pun setuju dengan pernyataan tersebut. “Secara umum, kita belum melihat makanan sebagai mekanisme penularan penyakit”, tukasnya.

Bisakah hewan peliharaan saya menemani saya di karantina?

Ribuan orang telah menjalankan beberapa jenis karantina. Sebagian diperintahkan oleh petugas medis, dan sebagian adalah karantina sukarela dan biasanya berbentuk tidak meninggalkan rumah.

Jadi bisakah kucing atau anjing saya menemani saya di karantina untuk mengurangi kebosanan?

Profesor Whittaker sendiri telah meneliti persebaran Coronavirus COVID-19 di hewan, manusia, dan antara hewan – manusia, berkata dia belum pernah melihat kasus dan bukti bukti bahwa orang yang tertular bisa menyebarkan virus ini ke hewan peliharaannya.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *