Sebagai negara yang bercorak sejarah kepercayaan Hindu-Buddha, tidak mengeherankan jika Indonesia memiliki beragam peninggalan budaya tersebut. Salah satu contoh peninggalan budaya Hindu-Buddha ini adalah candi. Ada banyak destinasi wisata Candi di Indonesia.

Walaupun Candi Prambanan atau Candi Borobudur merupakan dua destinasi Candi di Indonesia yang paling popular dan belum ada candi lain yang ditemukan di Indonesia yang konon mampu menandingi kemegahan dan kepopuleran kedua candi tersebut, tetapi jika ditilik dari segi nilai sejarah, masih banyak candi lainnya yang masih berdiri dengan gagah dan megah. Saat ini, candi-candi tersebut digunakan sebagai tempat wisata, tempat belajar sejarah, tempat mempelajari kehidupan, dan sebagainya.

Apa saja destinasi wisata candi di Indonesia lainnya selain Borobudur dan Prambanan? Yuk, simak beberapa rekomendasi destinasi Candi di Indonesia di artikel berikut ini.

Candi Mendut

Candi Mendut terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 38 kilometer ke arah barat laut dari Yogyakarta dan tiga kilometer dari Candi Borobudur. Candi bercorak Buddha ini memiliki arsitektur unik. Tempat peribadatannya didirikan oleh Raja Dharanindra atau Indra dari wangsa Syailendra. Bukti pendiriannya tertuang di dalam Prasasti Karang Tengah yang berangka tahun 824 M.

Candi Mendut berbentuk segi empat. Tinggi bangunan ini 26,40 meter di atas batu setinggi 2  meter. Terdapat tangga menuju selasar candi terdapat di sisi barat, di depan pintu masuk candi yang dilengkapi bilik penampil. Di bagian dinding pipi tangga, terdapat panil berpahat yang menggambarkan ajaran Buddha, sedangkan pada pangkal tangga, ada patung sepasang naga yang membuka mulut. Dalam mulut naga, terdapat binatang yang menyerupai sing dan di bawah naga terdapat panil bergambar makhluk kerdil “Gana”.

Selain tangga, di dinding kaki candi, terdapat 31 panil yang berisi cerita, pahatan bunga, serta suluran, sedangkan di dinding luar langkan terdapat saluran air (jaladwara). Atapnya yang terdiri dari tiga kubus yang semakin kecil ke atas dianggap memiliki kemiripan dengan candi di sekitar Komplek Candi Dieng serta Gedongsanga. Candi Mendut juga dilengkapi dengan elemen lain seperti arca dan stupa. Tepat di dalam bilik, terdapat tiga arca Buddha, Cakyamuni yang bersila, Avalokitesvara yang melambangkan sifat penolong, dan Maitreya yang melambangkan pembebas manusia di masa depan. Setelah itu, terdapat sejumlah 48 stupa di atap candi mendut. Pada tingkat pertama terdapat 24 buah, tingkat kedua 16 buah, dan tingkat teratas ada 8 buah.

Candi Kalasan

Candi Kalasan adalah salah satu candi di Yogyakarta. Candi Kalasan dipercaya merupakan candi tertua di Yogyakarta. Situs bersejarah nan megah ini memiliki keindahan arsitektur perpaduan dari gaya Hindu dan Budha. Candi Kalasan merupakan salah satu candi yang masuk dalam golongan candi bercorak Buddha. Candi Kalasan sering disebut sebagai Candi Tara atau Candi Kalibening. Kalibening merupakan tempat situs bersejarah ini berada yaitu Desa Kalibening. Secara administratif, Candi Kalasan terletak pada Desa Kalibening, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Candi Kalasan dipercaya sebagai candi peninggalan umat Budha tertua yang berada di Yogyakarta. Candi ini mempunyai keindahan serta kehalusan pada pahatannya yang tidak dimiliki oleh candi-candi lain. Hal tersebut merupakan daya tarik bagi wisatawan untuk mengunjungi candi ini. Keunikan candi ini terletak pada arsitektur bangunan yang merupakan perpaduan antara budaya Hindu dan Budha.

Candi Kalasan berdiri di sebuah pondasi yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 45 x 45 meter. Candi Kalasan ini berada pada ketinggian sekitar 20 meter dari tanah yang membuat tinggi candi secara keseluruhan 34 meter. Setiap sisinya terdapat tangga untuk menuju emperan candi. Tangga tersebut dihiasi sepasang kepala naga pada kaki-kakinya. Bentuk bangunan candi Kalasan secara garis besar menyerupai empat persegi panjang yang berukuran 34 x 45 meter. Ruangan utama yang membentuk bujur sangkar terdapat bilik-bilik yang posisinya menjorok keluar pada keempat sisinya serta terdapat sebuah singgasana yang dihiasi makhluk seperti singa yang duduk di punggung gajah.

Candi Pawon

Candi Pawon terletak tepat di sumbu garis yang menghubungkan Candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi yang berbentuk persegi empat dengan atap bertingkat dan sebuah bilik di dalamnya ini berukuran jauh lebih kecil dibandingkan Candi Mendut. Letak Candi Pawon cukup tersembunyi karena dikelilingi rumah penduduk. Candi Pawon tersusun dari batuan vulkanik dengan perpaduan gaya bangunan Hindu Jawa kuno dan India, serta memiliki kemiripan corak ragam hias dengan Candi Mendut dan Candi Borobudur. Para ahli sepakat ketiga candi ini dibangun pada abad yang sama. Hal ini dipertegas dengan penemuan Prasasti Kayumwungan atau Prasasti Karangtengah yang bertanggal 26 Mei 824 Masehi.

Merujuk arti nama candi, kata pawon  memiliki beragam makna dan penafsiran. Kata Pawon dalam Bahasa Jawa berarti dapur atau tempat yang biasa digunakan untuk memasak. J.G. de Casparis mengatakan bahwa kata pawon berasal dari kata perawuan atau perabuan, sedangkan penduduk lokal mengatakan bahwa kata pawon berasal dari pawuan yang berarti tempat pembuangan atau pembakaran sampah. Semua kata ini merujuk pada satu hal, yakni adanya api atau proses pembakaran di Candi Pawon. Dalam bilik candi terdapat enam lubang angin yang bisa berfungsi sebagai tempat keluarnya asap hasil pembakaran. Lubang angin ini menjadi pembeda arsitektur Candi Pawon dengan candi-candi lain yang biliknya tertutup rapat. Selain dinamakan Candi Pawon, penduduk sekitar juga menyebutnya dengan nama Candi Brajanalan yang berasal dari kata vajra (halilintar) dan anala (api).

Candi Istana Ratu Boko

Istana Ratu Boko adalah peninggalan situs arkeologi yang merupakan bekas istana yang terdiri dari beberapa bangunan. Istana Ratu Boko dikelola sebuah perusahaan BUMN, yaitu PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan Ratu Boko. Istana Ratu Boko terletak di Bokoharjo, Prambanan, Kabupatrn Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Istana Ratu Boko mempunyai luas sekitar 25 hektar. Dulunya, candi ini digunakan pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra atau Rakai Panangkaran yang berasal dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Apabila dilihat dari sisa bangunnya, dulunya candi ini merupakan sebuah kompleks istana raja. Hal ini terbukti dari adanya bangunan berbenteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Selain itu juga terdapat situs penduduk di sekitar lokasi istana.

Bagian tengah kompleks candi, terdapat gapura utama sebagai pintu masuk, lapangan, kolam, paseban dan candi pembakaran. Bagian tenggara terdapat pendopo, kolam, candi dan kompleks Keputren, sedangkan untuk yang bagian barat kompleks hanyalah perbukitan yang menarik.

Keistimewaan Candi Ratu Boko bisa dilihat dari segi kompleks bangunan. Hal ini terlihat jelas dan berbeda dengan bangunan candi pada umumnya. Terdapat bekas bangunan kolam renang mengisyaratkan bahwa tempat ini dulunya memang sebuah kompleks istana. Selain itu, letaknya yang berada diatas bukit sebagai tanda terdapatnya mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keistimewaan lainnya adalah adanya Candi Pembakaran yang digunakan untuk membakar mayat. Dari Candi Pembakaran, terdapat sebuah sumur suci yang konon pada zaman dulu digunakan warga untuk upacara keagamaan. Para penganut Agama Hindu juga sering menggunakan air yang ada di sumur ini untuk perayaan Tawur Agung.

Menariknya lagi dari situs ini, di Istana Ratu Boko terdapat dua buah goa yang disebut Goa Lanang dan Goa Wadon. Relief di Goa ini menggambarkan alat yang dimiliki oleh laki-laki dan wanita. Yang dianggap sebagai perwakilan Siwa dalam ajaran agama Hindu. Penyatuan antara yoni (cewek) dan lingga (cowok) dipercaya membawa kesejahteraan bagi semuanya. Tempat ini diprediksi sebagai tempat bermeditasi pada jaman dahulu. Selain menikmati keindahan bangunan yang ada di sekitar Istana Ratu Boko, Anda juga dapat melihat kemegahan Candi Prambanan dari atas bukit istana. Menanti sunset (matahari tenggelam) dari atas bukit merupakan moment yang paling ditunggu-tunggu jika berlibur ke Candi Ratu Boko.

Candi Cetho

Ada sebuah candi yang letaknya berada di atas ketinggian, tepatnya berada di lereng Gunung Lawu dan dijadikan salah satu tempat sebagai jalur pendakian. Walaupun letaknya jauh dan membutuhkan waktu yang lama karena memutar, namun jalur pendakian ini memiliki pemandangan yang sangat mengesankan, dibandingkan dengan Jalur pendakian yang lain. Tempat ini bernama Candi Cetho. Candi bercorak agama Hindu ini diperkirakan dibangun pada masa kerajaan Majapahit. Letaknya berada di 1496 mdpl dan menjadi salah satu candi tertinggi di Indonesia bersama dengan Candi Arjuna, Candi Gedong Songo, dan Candi Ijo.

Saat ditemukan, candi ini berbentuk sebuah reruntuhan dengan 14 teras yang memanjang dari barat ke Timur. Struktur yang bertingkat di duga kuat merupakan kultur budaya Nusantara dengan Hinduismenya. Pemugaran Candi pertama kali dilakukan pada tahun 1970 oleh Sudjono Humardani yang dahulu menjabat sebagai asisten Suharto. Sudjono mengubah total struktur asli Candi meskipun konsep punden berundak masih tetap dipertahankan.

Saat pertama kali ditemukan, Candi Cetho memiliki 14 teras. Saat ini, hanya terdapat sembilan teras. Kesembilan teras yang dapat ditemukan pada saat ini merupakan hasil pemugaran yang dilakukan oleh Sudjono Humardani pada tahun 1975-1976. Pada teras pertama, terdapat gapura besar yang merupakan penambahan saat pemugaran dan dua arca penjaga. Naik ke teras kedua, dapat dijumpai petilasan Ki Ageng Kricingwesi. Ki Ageng Kricingwesi dipercaya sebagai leluhur masyarakat Dusun Ceto.

Di teras ketiga, terdapat batu mendatar yang disusun membentuk kura-kura raksasa. Kura-kura ini diperkirakan merupakan lambang Majapahit yang disebut surya Majapahit. Selain itu, ada pula simbol phallus (alat kelamin pria) sepanjang 2 meter. Kura-kura merupakan lambang penciptaan alam semesta, sedangkan phallus merupakan lambang penciptaan manusia. Selain itu, di teras ini juga terdapat penggambaran hewan-hewan atau disebut juga sengkalan memet yang merupakan catatan dimulainya pembangunan candi ini.

Naik ke teras keempat, terdapat relief yang memuat cuplikan kisah Samudramanthana dan Garudeya. Adanya cuplikan dua kisah ini juga menguatkan asumsi fungsi Candi Cetho sebagai tempat peruwatan. Teras kelima dan keenam, terdapat bangunan berupa pendapa yang sering digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara-upacara keagaamaan. Teras ketujuh, terdapat dua arca di sisi utara dan selatan. Arca tersebut bernama arca Sabdapalon dan Nayagenggong. Menurut kepercayaan, Sabdapalon dan Nayagenggong merupakan penasihat spiritual Prabu Brawijaya V.

Di teras kedelapan, terdapat arca phallus yang disebut “kuntobimo” dan arca Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Sementara, teras yang terakhir merupakan tempat pemanjatan doa. Teras kesembilan ini tidak dibuka setiap saat. Pada tangga masuknya, terdapat gerbang yang dikunci. Gerbang baru dibuka pada acara-acara khusus, seperti sembahyang.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *