Boven Digoel, Saksi Bisu Para Pejuang Kemerdekaan Indonesia Dalam Pengasingan

Sejarah Indonesia tidak hanya menceritakan peristiwa-peristiwa heroik untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Beratus-ratus tempat menjadi saksi bisu para tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia melakukan aksi gagahnya untuk mengusir para penjajah yang licik dan bengis. Dalam lintasan sejarah Indonesia, ada sebuah tempat bernama Boven Digoel.

Daerah ini dulunya dikenal ganas dan mengerikan. Diselimuti hutan belukar lebat, rawa-rawa yang menjadi tempat tinggal banyak buaya, dan kesepian yang mencekam. Boven Digoel terletak di hulu Sungai Digoel, wilayah Papua bagian selatan, tepatnya 410 kilometer ke arah utara dari Marauke. Ada tiga cara di masa kini apabila seseorang ingin mengunjungi Boven Digoel. Pertama, naik pesawat terbang dari Marauke yang merupakan cara tercepat, tapi memakan biaya mahal. Kedua, menumpang kapal yang memiliki waktu tempuh selama tujuh hari, terhitung jika air tidak surut. Cara terakhir, perjalanan melalui darat menggunakan hiline dan harus membayar tarif sebesar 700 ribu per orang. Perjalanan darat membutuhkan waktu tempuh setidaknya sekitar 11 jam dari Marauke apabila sedang musim kemarau. Lain halnya apabila sedang musim hujan, perjalanan menuju tempat sejarah ini bisa memakan waktu hingga berhari-hari karena jalanan becek.

Sebelum didirikan kamp pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda, wilayah Boven Digoel telah dihuni penduduk asli atau lokal yang cara hidupnya masih sangat sederhana. Pengayauan dan kanibalisme merupakan cara bertahan hidup yang masih banyak dilakukan pada saat itu. Beberapa penduduk asli daerah tersebut antara lain suku Muyu, suku Mandobo, suku Auyu Darat, suku Auyu Kali dan suku Kombay-Koroway (suku Auyu Gunung). Suku-suku ini hidup secara terpisah.

Berdirinya Boven Digoel dilatarbelakangi adanya berbagai pemberontakan di Pulau Jawa antara tahun 1926 sampai tahun 1927. Saat itu, sebetulnya ada banyak pulau Indonesia lainnya yang belum dibuka untuk wilayah baru dan akhirnya pemerintah Hindia Belanda memilih Boven Digoel sebagai tempat pengasingan karena dianggap sangat terisolir.  Pada tanggal 10 Desember 1926, wilayah Sungai Digoel dipisahkan sub-divisi dari Papua bagian selatan melalui dekrit pemerintah dan dijadikan sebuah pemerintahan subdivisi Boven Digoel dengan Tanah Merah sebagai pusat pemerintahannya. Tidak lama setelah itu, rombongan tahanan pertama tiba di Tanah Merah pada tanggal 27 Maret 1927. Selama dua bulan, para tawanan ini dipekerjakan untuk membangun barak, gudang, rumah sakit, stasiun radio, kantor pos dan tempat mandi besar di aliran sungai yang diperuntukkan bagi tentara dan tawanan.

Ruangan-ruangan di kompleks penjara dibangun dengan berbagai variasi ukuran dan kapasitasnya, misalnya ruangan berbentuk sel diperuntukkan untuk perorangan, sementara barak bisa menampung hingga 50 tahanan. Kompleks penjara juga dilengkapi dapur, tempat penyimpanan logistik di bawah tanah, tempat tahanan wanita, kantor administratur dan tower air yang merangkap sebagai menara pantau. 

Tanah Merah terdiri dari tiga wilayah berbeda yang dipisahkan sungai-sungai kecil, yaitu: wilayah administratif yang menjadi tempat tinggal para pejabat sipil, wilayah militer, dan kamp pembuangan untuk para interni. Setelah Tanah Merah dibangun, pemerintah kolonial membuat tempat isolasi lagi seperti Gudang Arang yang setelahnya dipindah ke Tanah Tinggi. Tanah Tinggi menjadi tempat khusus untuk orang-orang yang dianggap paling keras kepala dan berbahaya, diantaranya Marco Kartodikromo, Aliarcham, Budisutjiro, dan Thomas Najoan. Tanah Tinggi jauh lebih mencekam dibandingkan Tanah Merah. Bisa diakses menggunakan boat menyusuri Sungai Digoel. Memang, Bouven Digul sebenarnya tidak dirancang sebagai suatu kamp konsentrasi karena tidak mempunyai penyiksaan atau pembunuhan terhadap tawanan di tempat itu. Di tanah pengasingan ini, pembunuh sebenarnya bukanlah malaria atau suku pemakan manusia, melainkan kebosanan dan ketidakpastian. Kebosanan itu akan membenamkan orang-orang buangan ke dalam lembah keputusasaan yang perlahan menggerus kewarasan mereka. Banyak tahanan yang hancur secara psikologis, hingga berakhir mengenaskan.

Sejak tahun 1932, banyak tokoh Partai Republik Indonesia (PARI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia (PARTINDO), Perhimpunan Muslim Indonesia (PERMI), Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) dan beberapa lainnya dibuang ke Boven Digoel. Hatta dan Sjahrir adalah dua tokoh pergerakan yang paling dikenal. Adik H. Agus Salim, I.F.M. Salim, wartawan yang terkenal cukup vokal juga diasingkan ke Boven Digoel. Selain tokoh-tokoh partai politik tingkat nasional, pada perkembangan berikutnya khususnya setelah Indonesia merdeka dan Tanah Papua masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, Kamp Boven Digoel tetap difungsikan sebagai tempat buangan bagi para elit Papua yang menentang kekuasaan penjajah Belanda. Diantara tawanan ini adalah para aktivis dan tokoh dari berbagai organisasi pergerakan pendukung Proklamasi Indonesia yang tumbuh dan berkembang di Tanah Papua antara 1946 hingga 1963.

Kondisi bekas Kamp Konsentrasi Boven Digoel telah mengalami banyak perubahan dari kondisi asli. Eks Kamp Konsentrasi Boven Digoel berada di sekitar pemukiman penduduk dan sebagian area menjadi kantor Polres Kabupaten Boven Digoel. Kondisi fisik bangunan tentunya juga mengalami beberapa renovasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Hal ini tentunya akan mengurangi nilai historis bangunan Eks Kamp Konsentrasi Boven Digoel. Di depan kantor polisi Digoel, ada sebuah patung besar berwujud Bung Hatta.

Tepat di depan patung tersebut, ada sebuah bandara yang dibangun di masa pembuangan. Bandara ini berukuran kecil, hanya pesawat perintis yang bisa mendarat. Boven Digoel  menjadi saksi bahwa Boven Digoel adalah persinggahan, bahkan hunian terakhir, bagi orang-orang pergerakan yang tak mau mematuhi Belanda. Boven Digoel ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional sejak 26 Maret 2007 silam oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Efek Samping Terlalu Banyak Konsumsi Ayam Goreng

Sajian ayam goreng atau fried chicken menjadi opsi yang disukai banyak orang karena mudah didapat dan harganya pun terjangkau. Selain itu, ragam olahannya pun terkadang menjadi pilihan yang menyenangkan.

Seperti ayam geprek, sajian fried chicken yang dipadukan dengan cabe rawit. Ada juga fried chicken ayam goring berbumbu ala Korea atau bumbu barbeque dan dicocol saus keju. Walaupun demikian, mengkonsumsi ayam goreng terlalu sering memiliki sejumlah efek yang kurang baik pada tubuh.

Apa saja efek samping yang dapat ditimbulkan karena terlalu banyak konsumsi ayam goring?

Menambah Berat Badan

Jika kalian selalu memilih versi ayam goreng di restoran cepat saji favorit kalian, maka kalian bisa beresiko menambah berat badan. Ini karena ayam goreng mengandung lebih banyak kalori daripada yang tidak digoreng. “Ketika makanan digoreng, mereka menjadi lebih padat kalori karena bagian luar makanan kehilangan air dan menyerap lemak atau minyak,” kata Ashley Kitchen. “Minyak di mana makanan digoreng bisa mengandung lemak trans, yang telah terbukti meningkatkan LDL Anda.”

LDL adalah jenis kolesterol berbahaya yang dapat menyumbat arteri kalian dan menyebabkan penyakit kardiovaskular. Pertimbangkan untuk mengurangi asupan ayam goreng dan makanan gorengan lainnya untuk menghindari penambahan berat badan dan masalah kesehatan jantung di masa depan.

Meningkatkan Resiko Kematian

Sebuah studi tahun 2019 yang diterbitkan di BMJ mengungkapkan bahwa wanita yang makan satu porsi ayam goreng setidaknya sekali sehari memiliki risiko kematian 13 persen lebih tinggi dari penyebab lainnya, dibandingkan dengan mereka yang tidak makan gorengan sama sekali.

Perut Kembung

Sebagaimana dilansir Eat This, Not That!, makanan berlemak seperti ayam goreng tepung atau fried chicken lambat dicerna, artinya makanan tersebut bergerak perlahan melalui saluran pencernaan kalian dan dapat menyebabkan perut kembung. Makanan yang digoreng adalah penyebab utamanya, karena mengandung banyak lemak jenuh dan lemak trans.

Source: Google Image Search

Lesu

Sekitar 95 persen pasokan serotonin tubuh (hormon yang membuat kalian merasa baik) diproduksi oleh bakteri usus kalian. Selain itu, saluran pencernaan kalian dilapisi dengan jutaan sel saraf yang disebut neuron yang membantu mencerna makanan dan bahkan berperan dalam mengatur suasana hati kalian. Jika kalian mengkonsumsi banyak ayam goreng, pada dasarnya kalian mengisi usus kalian dengan bahan-bahan inflamasi dan menyebabkan lebih banyak bakteri jahat tumbuh. Ini dapat menghambat jumlah bakteri baik yang dihasilkan usus dan karenanya itu mempengaruhi tingkat energy.

Mengubah Mood

Makanan yang dikonsumsi bisa juga berpengaruh pada mood. Sekitar 95 persen dari suplai serotonin (hormon perasaan senang) tubuh kita diproduksi oleh bakteri usus di saluran gastrointestinal (GI). Saluran pencernaan juga dilapisi dengan jutaan sel saraf disebut neuron, yang membantu mencerna makanan dan mengatur suasana hati Anda. Berapa banyak serotonin yang dihasilkan usus kalian sebagian besar didasarkan pada seberapa banyak bakteri baik yang menyusun mikrobioma usus kalian.

Nah, makan ayam goreng secara rutin dapat menyebabkan lebih banyak bakteri jahat yang kemudian dapat menyebabkan lebih banyak peradangan dalam tubuh. Ini juga dapat menghambat produksi serotonin di usus dan kemudian dikomunikasikan dengan otak.