Mengapa Sarapan Bisa Bantu Turunkan Berat Badan?

Sarapan pagi ternyata memiliki banyak manfaat. Selain bisa memberikan energi pada tubuh untuk beraktivitas, sarapan pagi juga bisa membantu menurunkan berat badan bahkan hanya dengan sepotong roti panggang dan telur loh. Oleh karena itu, sebaiknya sarapan jadi rutinitas harian di pagi hari yang tidak boleh terlewatkan. Bagaimana cara sarapan dapat membantu menurunkan berat badan? Berikut penjelasannya.

Membuat perut kenyang lebih lama

Nutrisionis Lisa Young mengatakan, sarapan membantu perut merasa kenyang lebih lama. Karena perut merasa kenyang, maka kalian tidak perlu makan kudapan atau makanan lain sebelum jam makan siang.

Kunci untuk rasa kenyang lebih lama setelah sarapan adalah dengan kombinasi bahan makanan padat gizi. Beberapa komposisi yang kalian perlukan yaitu seperti protein, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks yang kaya serat. Kombinasi dari bahan-bahan ini akan membantu kalian merasa kenyang lebih lama.

Terhindar dari lapar tengah malam

Sarapan di pagi hari ternyata bisa membuat kalian tidak merasa lapar saat tengah malam. Nutrisionis Amy Goodson mengatakan, orang yang menghindari sarapan cenderung akan merasakan lapar tengah malam. Akibatnya, mereka makan tengah malam dan menyebabkan kalori menumpuk di tubuh. “Sarapan dengan karbohidrat, protein, dan serat dapat membantu menormalkan gula darah, sehingga Anda tak perlu ngidam tengah malam,” katanya.

Mendapat serat

Menurut American Heart Association, manusia idealnya mengkonsumsi 25-30 gram serat setiap hari. Namun, tidak semua orang bisa mendapatkan serat yang cukup, apalagi jika melewatkan sarapan. Makanan yang disajikan untuk sarapan seperti oatmeal, roti gandum, buah-buahan, bahkan sereal, biasanya mengandung serat yang dibutuhkan tubuh. Sarapan dengan dua helai roti gandum dan telur bisa membantu memenuhi kebutuhan serat harian Anda.

Pemenuhan serat yang tercukupi juga bisa membantu rasa kenyang lebih lama yang berkontribusi pada diet kalian. “Serat adalah kunci dalam membantu tetap kenyang untuk mencegah makan berlebihan saat menurunkan berat badan,” kata Ahli Nutrisi di Universitas Hawai, Jinan Banna.

Mendapat protein

Selain mendapatkan serat, kalian juga mendapatkan protein dalam sarapan. Asupan protein yang disarankan adalah 20-30 gram untuk sarapan kalian, dibarengi dengan karbohidrat kaya serat. Sarapan dengan telur atau yogurt direkomendasikan dalam menu makan pagi kalian. Kedua makanan ini dapat membuat kalian merasa kenyang lebih lama  dan mengurangi asupan makan berlebihan. Setelah tahu manfaat sarapan, sebaiknya kita tidak melewatkannya di pagi hari. Menurut Healthline, beberapa menu sarapan seperti telur, gandum, buah beri, pisang, kacang, dan oatmeal merupakan menu terbaik di pagi hari yang bisa menurunkan berat badan. Menu sederhana seperti roti gandum panggang dengan telur, oatmeal dengan buah, atau perpaduan yogurt dan buah bisa jadi pilihan menu makan pagi kalian. Jika terlalu sibuk, kalian bisa juga hanya dengan memakan apel yang sudah dioleskan selai kacang untuk menu sarapan. Perpaduan ini juga tak kalah bernutrisi dan nikmat di lidah.

Tugu Digulis Pontianak, Bukti Kegigihan Para Pahlawan Kalimantan Barat

Tugu Digulis atau Tugu Bundaran Untan adalah tugu yang berbentuk bambu runcing. Tugu ini terletak di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak. Monumen ini diresmikan pada 10 November 1987 oleh Gubernur Kalimantan Barat kala itu, H. Soedjiman. Bukan sekedar monumen biasa untuk mempercantik tata kota, ternyata monumen ini dibangun sebagai penghormatan untuk perjuangan heroik 11 orang pahlawan asal Kalimantaan Barat saat era kolonial Belanda. Kesebelas tokoh ini yaitu Achmad Marzuki, Achmad Su’ud bin Bilal Achmad, Gusti Djohan Idrus, Gusti Hamzah, Gusti Moehammad Situt Machmud, Gusti Soeloeng Lelanang, Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, Haji Rais bin H. Abdurahman, Moehammad Hambal alias Bung Tambal, Moehammad Sohor dan Ya’ Moehammad Sabran.

Kawasan Sekitar Tugu Digulis Pontianak

Perjuangan ini dimulai dari adanya pergerakan pemuda di Kalimantan Barat yang membentuk Sarekat Islam (SI) di Ngabang pada tahun 1914. Saat itu, pergerakan ini sukses menuai simpati dari banyak masyarakat. Ketika berada di masa kejayaan, pemerintah Belanda mengeluarkan perintah untuk membekukan semua kegiatan Sarekat Islam. Kebijakan ini diterapkan sebagai tindak lanjut adanya pemberontakan anggota Sarekat Islam di Jawa Barat dan Sumatera. Mendengar adanya kebijakan ini, dengan sigap Gusti Soeloeng Lelanang membentuk Partai Sarekat Islam (PSI) dan tidak perlu menunggu waktu lama, pendukung Partai Sarekat Islam ini terkumpul banyak. Sayangnya, lagi-lagi pemerintah Belanda berhasil membubarkan PSI.

Tidak hanya membubarkan PSI, pemerintah Belanda kala itu juga memerintahkan untuk membuang tokoh-tokoh pejuang Kalimantan Barat ini ke Boven Digul. Dahulu, Boven Digul dikenal sebagai tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan. Tempat ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu Digul Atas, Tanah Merah, Gunung Arang yang digunakan sebagai tempat menyimpan batu bara, zona militer yang menjadi tempat petugas pemerintah dan yang terakhir dinamakan Tanah Tinggi. Boven Digul dijelaskan sebagai daerah yang menyeramkan karena berawa-rawa, berhutan lebat, terasing, dan akses yang sulit. Akses melalui laut menjadi satu-satunya  cara jika ingin berhubungan dengan daerah luar.

Ensiklopedia menjelaskan, sebetulnya, Boven Digul ini dipersiapkan tergesa-gesa oleh pemerintah Belanda sebagai tempat untuk membuang para tawanan Pemberontakan 1926. Tercatat sebanyak 1308 yang pernah menjadi tawanan di Boven Digul, sebagian besar merupakan pemimpin-pemimpin pergerakan nasional. Beberapa tokoh pergerakan nasional yang pernah dibuang di Boven Digul, antara lain Sayuti Melik, Muchtar Lutffi, dan Ilyas Yacub.

Tiga dari sebelas orang tokoh perjuangan Kalimantan Barat meninggal pada masa pembuangan ke Boven Digul dan lima diantaranya gugur dalam peristiwa di Mandor. Nama-nama kesebelas tokoh ini diabadikan menjadi nama-nama jalan di Kota Pontianak. Berikut nama-nama kesebelas tokoh tersebut beserta penyebab wafatnya.

Achmad Marzuki, asal Pontianak, meninggal karena sakit dan dimakamkan di makam keluarga;

Achmad Su’ud bin Bilal Achmad, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;

Gusti Djohan Idrus, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel;

Gusti Hamzah, asal Ketapang, wafat dalam Peristiwa Mandor;

Gusti Moehammad Situt Machmud, asal gabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;

Gusti Soeloeng Lelanang, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;

Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, asal Melapi, Kapuas Hulu, meninggal karena sakit di Putussibau.

Haji Rais bin H. Abdurahman, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;

Moehammad Hambal alias Bung Tambal, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel;

Moehammad Sohor, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel; dan

Ya’ Moehammad Sabran, asal Ngabang, meninggal karena sakit.

Relief 11 Tokoh Sarekat Islam yang Diabadikan di Tugu Digulis

Untuk mengenang jasa dan perjuangan yang telah dilakukan 11 tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia ini, maka dibangun Tugu Digulis untuk mengenang para intelektual pemberani asal Kalimantan Barat ini yang dianggap membahayakan pemerintah Hindia  Belanda. Awalnya, tugu berbentuk bambu runcing ini berwarna kuning polos. Lalu, pada tahun 1995, Tugu Digulis dicat ulang menggunakan warna merah-putih. Penggunaan warna merah putih ini menimbulkan banyak anggapan bahwa Tugu Digulis lebih terlihat seperti lipstik, sehingga pada tahun 2006 dilakukan renovasi sehingga Tugu Digulis lebih mirip bambu runcing seperti bentuknya hingga sekarang. Selain dinamakan Tugu Digulis, beberapa orang juga menamai tugu tersebut dengan Tugu Aspirasi, karena lokasi di sekitar tugu kerap menjadi lokasi unjuk rasa mahasiswa dan berbagai kalangan.

Penampakan Tugu DIgulis Ketika Dicat Warna Merah Putih

Terkait penamaan Digulis, berdasarkan buku “Pontianak Heritage”, dijelaskan bahwa nama Digulis diambil dari nama Boven Digul.